Membangun Pemahaman Tentang Sack Sentences Completion Test (SSCT)

 Opini, Psikologi Populer
SSCTnew

Pemateri beserta para peserta pelatihan Sack Sentence Completion Test (SSCT)

PsychoNews – Sabtu kemarin (5/11) dilaksanakan pelatihan Sack Sentence Completion Test (SSCT) di Ruang Sidang Lt. 1  Gedung Sport Center Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. SSCT itu sendiri dipopulerkan oleh Joseph M. Sacks, merupakan suatu teknik proyeksi yang digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam interpretasi terhadap lingkungan. Pelatihan yang berlangsung pada pukul 09.00-12.00 WIB ini diadakan oleh Biro Konseling Smart. Pemateri merupakan seorang dosen psikologi, Ibu Fuji Astutik, M.Psi yang juga merupakan founder dari Biro Konseling Smart. Para peserta sangat antusias dalam menghadiri pelatihan ini, terbukti pelatihan ini dihadiri oleh mahasiswa psikologi mulai dari semester satu hingga semester tujuh baik yang berasal dari Kota Malang, maupun yang berasal dari luar Kota Malang.

Pelatihan ini pada awalnya didasari keinginan dari Fuji, selaku founder Biro Konseling Smart. Beliau berpikir bahwa seseorang yang sudah memutuskan untuk masuk ke dalam jurusan psikologi setidaknya nanti ia akan menjadi seorang psikolog. Pelatihan SSCT ini memudahkan seorang psikolog ketika sudah terjun langsung di masyarakat. Sehingga, tujuan utama mempelajari SSCT ini untuk mempermudah menganalisa masalah yang dihadapi oleh para klien.

Pelatihan SSCT ini diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan tahap pertama pelatihan yang berfokus pada teori. Memasuki tahap kedua, peserta diajak untuk melakukan role play. Disini, para peserta bisa mempraktekkan teori yang didapat dalam tahap pertama secara berpasang-pasangan bersama teman disampingnya. Mekanismenya, satu orang mengambil data teman yang menjadi pasangannya dan begitu pula sebaliknya, kemudian mereka bisa mengelaborasikan data tersebut dengan berpedoman pada kode etik psikologi.

Dengan diadakannya pelatihan SSCT ini, diharapkan mampu menjadi bekal pengetahuan tentang dunia psikologi dalam menghadapi kondisi real di lapangan. Karena sejatinya lulusan sarjana psikologi belum diperkenankan untuk melakukan tes, tanpa didampingi oleh seorang psikolog. Selain itu, wawasan para mahasiswa psikologi akan terbuka dengan adanya banyak metode untuk memahami manusia, sehingga dengan adanya pengenalan dan pelatihan ini para mahasiswa psikologi mampu memahami manusia secara komprehensif. Dengan demikian, ketika nanti para mahasiswa psikologi sudah terjun di masyarakat sudah sesuai dengan prosedur yang ada.

Pelatihan SSCT ini meninggalkan kesan tersendiri bagi pemateri tunggal dalam acara ini, yakni Ibu Fuji Astutik, M.Psi. “Saya sangat luar biasa senang. Begitu besar antusiasme para mahasiswa dalam mengikuti acara ini. Bahkan, ada yang rela datang jauh-jauh dari Surabaya. Di akhir acara kami meminta saran, kesan, dan pesan mereka dalam acara ini, dan alhamdulillah reportnya mereka juga bagus. Dan ketika ada pelatihan kembali, mereka juga akan datang dengan membawa teman-temannya”, ujar Ibu Fuji

Jika ditinjau dari sisi psikologis, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Laurine, dalam bukunya Building the High School Curriculum (1958) mengemukakan bahwa “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengamatan”. Menurut pengertian ini, belajar merupakan proses, kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu dan bukan hanya penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan dalam kelakuan.

Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan sehingga Islam sangat menekankan umatnya untuk terus belajar. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”. Allah juga berfirman dalam QS. Al-Mujaadalah bahwasannya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dalam perspektif Islam, seseorang yang telah melalui proses belajar, idealnya ditandai dengan munculnya pengalaman-pengalaman psikologis yang positif serta diharapkan dapat mengembangkan aneka ragam sifat, sikap, dan kecakapan yang konstruktif, bukan kecakapan yang destruktif. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar perspektif psikologi, dalam konteks Islam maknanya lebih dalam, karena perubahan perilaku dalam Islam indikatornya adalah akhlak yang sempurna. Akhlak yang sempurna mesti dilandasi oleh ajaran islam. Dengan demikian, perubahan perilaku sebagai hasil belajar adalah perilaku individu muslim yang peripurna sebagai cerminan dari pengamalan terhadap seluruh ajaran Islam.

Reporter : Wachidatul Zulfiyah

Editor      : Fauza Nur Hidayah

Simpan Berita

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: