{"id":3742,"date":"2017-11-23T12:46:44","date_gmt":"2017-11-23T05:46:44","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=4323"},"modified":"2017-11-23T12:46:44","modified_gmt":"2017-11-23T05:46:44","slug":"rasa-keingintahuan-tentang-islamization-of-knowledge-hantarkan-gwan-hingga-ke-negeri-jiran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/rasa-keingintahuan-tentang-islamization-of-knowledge-hantarkan-gwan-hingga-ke-negeri-jiran\/","title":{"rendered":"Rasa Keingintahuan tentang Islamization of Knowledge Hantarkan Gwan Hingga ke Negeri Jiran"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_4324\" aria-describedby=\"caption-attachment-4324\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171112-WA00391.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4324\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171112-WA00391.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4324\" class=\"wp-caption-text\">Ragwan Al Aydrus Pose di Halaman Depan Petronas yang berada di Pusat kota Malaysia<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>\u201c<\/strong>Aku sempat <em>ngerencanain<\/em> untuk <em>apply<\/em> di salah satu universitas di Indonesia, tapi <em>qadarullah <\/em>jalannya lebih dekat kesini, dan aku yakin ada manfaat dan hikmahnya.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">PsychoNews &#8211; Gwan, sapaan akrab alumni Fakultas Psikologi 2013 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kini tengah <em>merampungkan <\/em>tesisnya tentang <em>Self-directed Learning Readiness Among High School Students<\/em> di International Islamic University Malaysia (IIUM). Menjadi mahasiswi internasional tentunya bukan hal yang mudah bagi pemilik nama lengkap Ragwan Al-Aydrus ini. Meskipun tak begitu jauh dari Indonesia, tetap saja, merantau ke Malaysia membuatnya kerap rindu pada keluarga. Tapi apa mau dikata, rasa keingintahuannya tentang <em>Islamization of Knowledge <\/em>(IOK) akhirnya menghantarkan perempuan berdarah Arab Sulawesi ini hingga ke negeri Jiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berangkat pada awal Januari 2016, Gwan mengawali pendidikannya dengan cara <em>self-funded<\/em>. \u00a0Beasiswa pun dicobanya dengan berbekal CGPA (IPK) yang memadai. Menurutnya, untuk berkuliah di IIUM, tak banyak persyaratan yang dibebankan. Seperti halnya Universitas lain, pendaftar hanya perlu megirim beberapa dokumen sebagai syarat, dan akan menjalani wawancara jarak jauh jika dibutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak banyak perbedaan kuliah di Indonesia dan Malaysia. Secara lingkungan dan budaya, Indonesia dan Malaysia mempunyai kemiripan.\u00a0 \u201cAku <em>gak<\/em> bisa menggeneralisir perbedaannya <em>nih,<\/em> jadi aku coba <em>ceritain<\/em> kondisi di IIUM <em>aja<\/em> ya. Sebenarnya <em>gak <\/em>banyak perbedaan kalau dari segi lingkungan, secara budaya kita dan Malaysia hampir-hampir <em>miriplah<\/em>. Apalagi disini <em>buanyak<\/em> mahasiswa Indonesia juga. Jadi tetap <em>berasa<\/em> kayak rumah sendiri. Perbedaan diperkuliahan salah satunya di Bahasa pengantar. <em>Mostly<\/em> universitas di Malaysia menggunakan Bahasa inggris, kecuali di beberapa kampus yang memang ingin \u201cmerawat\u201d penggunaan Bahasa Melayu seperti UKM.\u201d Jelas perempuan kelahiran Palu, 8 Juli 1991 ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal unik yang Gwan dapatkan dari kampus ini adalah prinsip Islam yang ditanamkan dalam proses akademik. \u201c Satu hal yang mungkin kamu <em>nggak<\/em> dapatkan dari kampus lain di IIUM adalah fondasi keilmuwan Islam yang coba ditanamkan ke mahasiswa. Idealismenya gini, jadi apapun jurusannya, kamu perlu menguasai <em>worldview<\/em> Islam supaya\u00a0 kamu bisa jadi professional atau ilmuwan yang merefleksikan identitas kamu sebagai Muslim. Misalnya saja, mahasiswa S1 Psikologi di sini dapat memilih minor di bidang Qur\u2019an sunnah, ini bagian dari proses Islamisasi Ilmu\u201c tutur mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2009 ini. Gwan menambahkan lingkungan masyarakat di Malaysia, khusunya kampus IIUM sangat kondusif untuk kehidupan mahasiwa muslim. Beberapa teman yang berasal dari minoritas muslim mengaku memilih IIUM karena faktor lingkungan yang tidak bisa mereka dapatkan jika kembali ke negaranya. Tentang sistem kuliah, Gwan menjelaskan bahwa di IIUM dirinya mengambil <em>mix-mode.<\/em> \u201cKuliahnya <em>full, <\/em>aku sendiri mengambil <em>mix-mode, <\/em>perpaduan <em>coursework <\/em>dan <em>research<\/em>. Jadi aku punya beberapa mata kuliah spesialis dan wajib. Belum lagi <em>pre-requisite<\/em> (mata kuliah pra-syarat) dan kelas bahasa di semester awal. Karena itu, sekarang aku masih terhitung semester tiga, dan dalam proses pengerjaan tesis. Doain semoga dimudahkan ya.\u201d Jelas Gwan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belajar di negeri tetangga tentunya memberikan banyak pengalaman bagi Gwan, salah satu pengalaman mengesankan bagi Gwan adalah ketika bisa mengenal semangat dan optimis kawan-kawan Muslim dari berbagai belahan dunia. \u201cSalah satu yang paling mengesankan, aku bisa mengenal dekat kawan-kawan Muslim dari kelompok minoritas atau yang berasal dari daerah konflik. Bagaimana mereka melanjutkan Pendidikan dengan optimis meski harus bertahun-tahun <em>nggak<\/em> kembali ke negaranya, karena jika kembali, bisa jadi mereka <em>nggak<\/em> lagi diizinkan untuk melanjutkan kuliah. Pengungsi perang seperti dari Syiria dan Yaman juga banyak.\u201d Terang perempuan yang mempunyai hobi <em>blogging <\/em>dan membuat kue ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4325\" aria-describedby=\"caption-attachment-4325\" style=\"width: 1080px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171107-WA0061.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4325\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171107-WA0061.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"1080\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4325\" class=\"wp-caption-text\">Bersama Prof. Malik Badri (Pionir Psikologi Islam) dalam Seminar Psikologi Islam di Malaysia<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDi antara mereka ada yang harus belajar Bahasa inggris dari awal di kelas persiapan meski harus berkali-kali gagal. Di samping juga harus mencari pemasukan untuk bertahan hidup. <em>\u201cseringkali aku kepikiran, jangan-jangan selama ini aku masih di comfort zone, dari situ kalau ngerasa malas dikit, inget aja temen-temen yang mau belajar tapi perjuangan mereka jauh lebih berat<\/em>\u201d. Selain itu, mahasiswa IIUM berasal dari banyak negara, karena itu tentunya mereka punya perbedaan tradisi hingga mazhab fiqih, mulai dari pakaian hingga cara shalat. Hal seperti ini bisa bikin kamu lebih open-minded dalam beragama.\u201d Imbuh Gwan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika ditanya tentang alasan mengapa memilih IIUM sebagai kampus untuk melanjutkan jenjang magisternya, Gwan menjelaskan bahwa sejak S1, Gwan sudah mempunyai keinginan untuk melanjutkan di IIUM. \u201cAlasannya <em>nggak<\/em> terlepas dari <em>idealism<\/em> aku juga sih, <em>hehe<\/em>. Sejak S1 aku udah punya keinginan melanjutkan kuliah di IIUM untuk memuaskan keingintahuan mengenai ide <em>Islamization of Knowledge<\/em> (IOK). <em>Islamization of Knowledge <\/em>(IOK) adalah upaya untuk mengadaptasi ilmu pengetahuan kontemporer agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Kebetulan ada jurusan yang aku minati juga. Aku sempat ngerencanain untuk <em>apply<\/em> di salah satu universitas di Indonesia, tapi <em>qadarullah <\/em>jalannya lebih dekat kesini, dan aku yakin ada manfaat dan hikmahnya.\u201d Tegas perempuan yang memilih <em>Educational Psychology <\/em>sebagai peminatan untuk jenjang magister.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4326\" aria-describedby=\"caption-attachment-4326\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171112-WA0040.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4326\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/IMG-20171112-WA0040.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4326\" class=\"wp-caption-text\">Gedung Rektorat Bagian Depan Kampus IIUM, Malaysia<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rencana Gwan setelah lulus dari International Islamic University Malaysia adalah ingin fokus pada penelitian (<em>research<\/em>), mengembangkan kompetensi sebagai peneliti dan menjadi akademisi. \u201cSelain itu juga InsyaAllah merintis usaha yang berhubungan dengan media belajar, mohon doanya\u201d. Pungkas perempuan 26 tahun ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Gwan, kuliah di negeri Jiran bukanlah cita-cita utama. Gwan menganggap ini adalah salah satu jalan yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk <em>mengantongi<\/em> ilmu-Nya yang Maha Luas. \u201cKuliah di luar negeri sebenarnya bukan cita-cita, tapi hanya jalan. Aku sadar ketika semakin belajar, ternyata semakin banyak <em>nggak<\/em> tahunya, dan masih banyak PR yang harus dikerjakan. Cita-cita aku yang lain menyangkut kompetensi diri yang ingin aku kembangkan, juga kontribusi apa yang bisa aku berikan dari ilmu yang aku punya terutama di bidang Pendidikan. Aku <em>nggak <\/em>bisa merinci semua, mungkin yang terdekat mewujudkan rencana setelah lulus master ini.\u201d jelas Gwan.(red.ms)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Faatihatul Ghaybiyyah (Ifa)<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">[button href=&#8221;http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/Rasa-Keingintahuan-tentang-Islamization-of-Knowledge-Hantarkan-Gwan-Hingga-ke-Negeri-Jiran.pdf&#8221; rounded=&#8221;&#8221; size=&#8221;btn-mini&#8221; style=&#8221;black&#8221; target=&#8221;_blank&#8221;]Simpan[\/button]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; \u201cAku sempat ngerencanain untuk apply di salah satu universitas di Indonesia, tapi qadarullah jalannya lebih dekat kesini, dan aku yakin ada manfaat dan hikmahnya.\u201d PsychoNews &#8211; Gwan, sapaan akrab alumni Fakultas Psikologi 2013 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kini tengah merampungkan tesisnya tentang Self-directed Learning Readiness Among High School Students di International [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3742","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3742","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3742"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3742\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3742"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3742"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3742"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}