{"id":3729,"date":"2017-09-25T13:49:42","date_gmt":"2017-09-25T06:49:42","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=4252"},"modified":"2017-09-25T13:49:42","modified_gmt":"2017-09-25T06:49:42","slug":"agus-sakti-alumni-sukses-sebagai-entrepreneur-produk-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/agus-sakti-alumni-sukses-sebagai-entrepreneur-produk-digital\/","title":{"rendered":"Agus Sakti Alumni Sukses Sebagai Entrepreneur Produk Digital"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_4253\" aria-describedby=\"caption-attachment-4253\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Agus-Sakti.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4253\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Agus-Sakti.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4253\" class=\"wp-caption-text\">Agus Sakti, Founder Eezygram &amp; Produk Digital<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">PsychoNews &#8211; Agus Sakti Saifur Ridlo, merupakan alumni Fakultas Psikologi UIN Malang tahun 2010 tengah menikmati kesehariannya sebagai seorang <em>entrepreneur.<\/em> Pria yang akrab disapa Sakti ini membawa angin baru dalam dunia <em>StartUp<\/em>. <em>Eezygram<\/em> merupakan salah satu dari banyak <em>software <\/em>yang berhasil ia ciptakan. <em>Software desktop<\/em> untuk <em>windows &amp; Mac OS X<\/em> ini membantu membuat <em>watermark<\/em> pada gambar dan video tanpa perlu membuka <em>image &amp; video editor<\/em>. Aplikasi ini memudahkan pembuatan kata-kata inspiratif maupun motivasional untuk menaikkan branding dan omset penjualan produk. Tak disangka bahwa pria kelahiran Lumajang, 30 tahun yang lalu ini merupakan sarjana psikologi. Takdir membawa ayah 2 orang anak ini untuk menjajaki dunia <em>StartUp<\/em> sekaligus menjadi seorang <em>entrepreneur<\/em> seperti saat ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sewaktu kuliah, Sakti merupakan sosok yang cukup aktif dalam berorganisasi. Sakti pernah diamanati sebagai Ketua Umum UKM LKP2M UIN Malang dan wakil ketua DEMA Fakultas Psikologi. Selain aktif dalam organisasi, Sakti aktif mengirimkan tulisannya di berbagai media cetak. Terbukti sudah puluhan tulisan buah dari pemikirannya telah dimuat dibeberapa surat kabar seperti Surya dan Malang Post dan tiga tulisan opininya berhasil diterbitkan oleh Kompas. Tak hanya itu, pria yang hobi membaca dan bermain futsal ini pernah memperoleh juara I pada lomba<em> essay<\/em> tahun 2008 dan juara II lomba karya tulis UIN Maliki Malang pada tahun 2007. Kali ini, Q &amp; A inspirasi dari alumni akan menyajikan hasil wawancara khusus dengan Agus Sakti. Berikut rangkuman hasil interview khusus Q &amp; A inspirasi oleh tim PsychoNews.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Bagaimana awal mulanya mas sakti tertarik untuk belajar di fakultas Psikologi UIN malang?<\/strong><\/span><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebetulnya saya tertarik ke ilmu kesehatan. Saya tidak diterima di fakultas kedokteran Universitas Negeri Jember (UNEJ). Saya mencari <em>alternative<\/em> yang masih memiliki kerabat keilmuan dengan kesehatan. Inilah kenapa saya memilih psikologi, dan pada tahun 2006, masih ada pembagian konsentrasi keilmuan. Dan saya memilih psikologi klinis, yang masih ada hubungan baik dengan kesehatan. Bukan psikologi sosial, psikologi industri, maupun pendidikan.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Mas Sakti merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang. Apa yang membuat mas memutuskan untuk berkecimpung di dunia entrepreneur dibanding dunia psikologi pada umumnya?<\/strong><\/span><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya tidak menyangkal bahwa bekerja di bawah sebuah instansi, baik pemerintah maupun swasta, adalah sebuah harapan siapapun. Saya pun demikian, tidak tiba-tiba menjadi <em>entrepreneur<\/em>. Saya bekerja, bahkan sejak kuliah selama 3 tahun. Setelah lulus, saya bekerja di perusahaan <em>travel agent<\/em>. Di tempat saya terakhir bekerja ini saya mulai kenal dengan dunia <em>entrepreneur<\/em>. Belajar <em>networking<\/em>, belajar membangun <em>branding, marketing<\/em>, dan menjaga konsumen.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><span style=\"color: #ff0000;\"><em><strong>Bagaimana awal mula mas merintis usaha software Eezygram?<\/strong><\/em><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Eezygram<\/em> adalah produk digital kedua puluh sekian yang saya kerjakan bersama tim. Sebelumnya ada beberapa yang sudah saya pasarkan di <em>market<\/em> Indonesia, dan sebagian besar di <em>market<\/em> Eropa. Hasilnya beragam, ada yang sukses, dan ada yang gagal dalam proses penjualannya. Diantara yang sukses antara lain:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em>Freshsentation \u2013 Corporate Video Template<\/em> (terjual 3500 lebih di pasar eropa)<\/li>\n<li><em>Decinema \u2013 Powerpoint Video Template<\/em> (terjual 1500 lebih di pasar Indonesia + Eropa)<\/li>\n<li><em>Eezygram \u2013 Instagram Content Creator<\/em> (terjual 1000 lebih di pasar Indonesia &amp; Eropa)<\/li>\n<li><em>Landingpress \u2013 Multipurpose WordPress Theme<\/em> (terjual 3700 lebih di pasar Indonesia)<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, jika ditanya awal mula merintis <em>eezygram<\/em>, saya agak kesulitan menjawab, karena <em>eezygram<\/em> sendiri adalah salah satu produk digital di bawah usaha yang sedang saya jalankan, yaitu <em>Eezywork<\/em>. Dan, di dalam <em>eezywork<\/em> ini ada beberapa tim yang memproduksi produk digital.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekedar informasi, produk digital itu bisa berupa <em>software, ebook<\/em>, <em>video<\/em> <em>tutorial, template presentasi<\/em>, atau apapun dalam bentuk digital. Bukan produk fisik. Sementara <em>eezywork<\/em>, memproduksi beberapa produk digital, seperti <em>software (eezygram), template presentasi dari powerpoint (freshsentation &amp; decinema), wordpress theme (landingpress), video tutorial, dan ebook.<\/em><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><strong><span style=\"color: #ff0000;\">Eezygram merupakan suatu software editing foto dan video untuk mempermudah proses upload di instagram. Apakah butuh modal yang besar untuk membangun bisnis software ini? Dan bagaimana mas mengatasinya?<\/span><\/strong><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Betul, butuh modal untuk membuat produk yang sedang saya kerjakan. Termasuk <em>eezygram<\/em> salah satunya. Jika ditotal, untuk produk ini saya menghabiskan kurang lebih Rp 60.000.000,- Kebetulan sekali, <em>eezygram<\/em> adalah produk digital kesekian yang saya produksi bersama tim saya. Artinya, ada dana perusahaan yang bisa saya putar untuk memproduksi <em>eezygram<\/em>. Saya bersyukur, hingga detik ini saya tidak pernah melakukan pinjaman uang ke bank untuk membangun bisnis yang sedang saya kerjakan. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, siapapun, yang tidak memiliki modal besar sekalipun, bisa memulai dan menjalankan bisnis seperti yang saya kerjakan saat ini. Bahkan tanpa bantuan modal dari bank sekalipun.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><strong><span style=\"color: #ff0000;\">Bagaimana suka duka menjadi seorang entrepreneur? Dan apa hambatan terbesar yang pernah mas alami?<\/span> <\/strong><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Besaran capaian selama menjadi <em>entrepreneur<\/em> secara personal, antara lain:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Jalan-jalan keluar negeri<\/li>\n<li>Beli rumah 2 tingkat di pusat Kota Jember<\/li>\n<li>Beli mobil sedan<\/li>\n<li>Bisa menyekolahkan istri hingga S2 dan sekarang menjadi dosen tetap di salah satu PTS di Jember<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Uniknya, ini saya capai sebelum usia 30 tahun, dan 100% tanpa bantuan materi dari orang tua. Kebetulan, ayah saya sudah meninggal sejak saya baru lulus SMP. Dan, saya percaya, meskipun tidak membantu secara materi, saya sangat yakin apa yang saya peroleh ini adalah keikhlasan dan doa dari ibu saya. Sementara capaian detailnya, banyak sekali. Tidak bisa saya jelaskan satu persatu di sini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk duka menjadi <em>entrepreneur<\/em>, di antaranya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Ditipu teman\/tim sendiri<\/li>\n<li>Rugi ratusan juta karena salah perhitungan<\/li>\n<li>Sering sekali dianggap pengangguran oleh tetangga dan sanak family<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setidaknya ini yang saya alami.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Bagaimana mas sakti menerapkan ilmu psikologi yang telah mas pelajari di bangku perkuliahan dalam hubungannya dengan bisnis yang mas geluti?<\/strong><\/span><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ilmu psikologi sangat luas sekali. Saya sendiri merasakan tanpa belajar ilmu psikologi saya akan kesulitan untuk menjalankan bisnis yang saya kerjakan. Termasuk rekrut tim baru. Saya bisa tahu apa yang sebetulnya saya butuhkan, dan bagaimana saya mengedukasi tim yang baru masuk supaya bekerja sesuai dengan goal yang saya bikin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Didalam tim yang saya dirikan, ada 3 model kerja yang saya terapkan;<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><em>Hustler;<\/em> fokusnya ke <em>marketing<\/em> &amp; bisnis. Jika saya sederhanakan, fokusnya adalah bagiamana supaya produk kita terjual laris. Turunannya, bikin <em>networking<\/em> yang bagus dengan <em>partner<\/em> dan <em>after sales service<\/em> ke klien\/pembeli.<\/li>\n<li><em>Hipster;<\/em> fokusnya ke desain dan <em>user experience<\/em>. Intinya, bagaimana caranya <em>packaging<\/em> produk kita bagus, website keren, dan produk mudah digunakan oleh pembeli.<\/li>\n<li><em>Hackaer;<\/em> fokusnya ke produksi produk. Wajib paham <em>programming <\/em>atau<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, saya sendiri adalah seorang <em>hustler,<\/em> fokus ke <em>networking,<\/em> membuat <em>special deal<\/em> dengan para tokoh yang memiliki <em>audience<\/em> yang banyak. Dan bagaimana caranya melakukan <em>\u201chipno-selling.\u201d<\/em> Dan inilah yang saya kerjakan. Ilmu yang saya pelajari selama kuliah sangat berguna sekali di posisi ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika saya sederhanakan, ilmu psikologi yang saya pelajari bisa membantu saya untuk membuat orang lain tertarik untuk membeli produk yang sedang saya kembangkan.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><em><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Siapa tokoh yang menginspirasi mas? Dan mengapa?<\/strong><\/span><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Almarhum ayah saya. Beliau adalah seorang pekerja keras. <em>Allahummaghfirlahum<\/em><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><span style=\"color: #ff0000;\"><em><strong>Apa harapan mas pada dunia psikologi di Indonesia?<\/strong><\/em><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bingung saya jawabnya. Terlalu besar cakupannya. Saya sendiri tidak mengharap apa-apa terhadap ilmu psikologi di Indonesia. Saya harap yang terbaik saja deh untuk Indonesia. Kalau secara personal, saya berharap bukan pada ilmu psikologinya. Tetapi berharap kepada para pembelajarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mudah-mudahan dengan mempelajari ilmu psikologi, kita semua bisa memaksimalkan semua potensi kita untuk pekerjaan kita, bangsa Indonesia, dan agama.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><span style=\"color: #ff0000;\"><em><strong>Sebutkan dua hal yang memotivasi mas dalam berkarya?<\/strong><\/em><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Doa Ibu saya<\/li>\n<li>Senyum dari istri dan kedua anak saya setiap hari<\/li>\n<\/ol>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><span style=\"color: #ff0000;\"><em><strong>Apa pesan mas untuk mahasiswa psikologi UIN Malang yang ingin mengikuti jejak mas?<\/strong><\/em><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selalu bekerja keras, tidak menunda-nunda waktu. Kerja keras tidak pernah menghianati. Fokus pada proses, bukan tujuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah berfirman dalam QS. An &#8211; Najm: 39 <em>\u201cDan bawasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya\u201d<\/em>. Manusia mempunyai keharusan untuk berusaha mengubah kondisi dari keterbelakangan menuju kepada kemajuan. Suatu prestasi kerja yang didapat tidak semata-mata dengan mudah didapatkan, tanpa dibarengi dengan kerja keras dan optimisme yang tinggi. <em>\u201c<\/em><em>Work hard, have fun, no drama\u201d,<\/em> begitulah motto hidup seorang Agus Sakti Saifur Ridlo. Sebab, ibadah sama halnya dengan melakukan pekerjaan baik yang dikerjakan dengan hati yang ikhlas karena Allah SWT. (Red.ms)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Reportase\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Wachidatul Zulfiah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Editor\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0 : Fauza Nur Hidayah, S.Psi<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">[button href=&#8221;http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Agus-Sakti-Alumni-Sukses-Sebagai-Entrepreneur-Produk-Digital.pdf&#8221; rounded=&#8221;&#8221; size=&#8221;btn-mini&#8221; style=&#8221;red&#8221; target=&#8221;_blank&#8221;]Simpan[\/button]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PsychoNews &#8211; Agus Sakti Saifur Ridlo, merupakan alumni Fakultas Psikologi UIN Malang tahun 2010 tengah menikmati kesehariannya sebagai seorang entrepreneur. Pria yang akrab disapa Sakti ini membawa angin baru dalam dunia StartUp. Eezygram merupakan salah satu dari banyak software yang berhasil ia ciptakan. Software desktop untuk windows &amp; Mac OS X ini membantu membuat watermark [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3729","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3729"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3729\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}