{"id":3592,"date":"2015-11-11T12:08:05","date_gmt":"2015-11-11T05:08:05","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=3235"},"modified":"2015-11-11T12:08:05","modified_gmt":"2015-11-11T05:08:05","slug":"lelucon-verbal-tentang-seks-masuk-dalam-kategori-pelecehan-seksual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/lelucon-verbal-tentang-seks-masuk-dalam-kategori-pelecehan-seksual\/","title":{"rendered":"Lelucon Verbal Tentang Seks, Masuk Dalam Kategori Pelecehan Seksual"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<figure id=\"attachment_3236\" aria-describedby=\"caption-attachment-3236\" style=\"width: 1544px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/apsifor2.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3236 size-full\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/apsifor2.jpg\" alt=\"apsifor2\" width=\"1544\" height=\"1066\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-3236\" class=\"wp-caption-text\">Pose Bareng: Mahasiswi Psikologi UIN Maliki Foto Bareng Bersama Narasumber<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PsychoNews<\/strong> \u2013 Satu lagi mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang kembali unjuk kebolehan pada <em>event<\/em> nasional. Kali ini giliran Dahniar, Ayas, Diana, dan Icha yang berkesempatan untuk mempresentasikan paper mereka dalam ajang <em>call for paper<\/em> yang diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Kamis lalu (12\/11). \u201c<em>Kemaren <\/em>aku, Diana, Ayas, sama Icha berangkat ke Yogya didampingi Pak Lubab sebagai dosen pembimbing kita,\u201d kata Dahniar, salah satu peserta <em>call for paper <\/em>Apsifor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rangkaian kegiatan yang bertema \u201cKompetensi Psikologi Forensik: Teknik Eksplorasi Kasus Kekerasan Seksual dalam Pemeriksaan Psikologis terhadap Korban Anak atau Remaja dengan Teknik <em>Let\u2019s Talk<\/em>\u201d terdiri dari <em>workshop <\/em>dan <em>call for paper. <\/em>Kegiatan yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan <em>Grand Quality Resort<\/em> ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, kriminolog, dosen, psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ), hingga jaksa, dan psikolog se-Indonesia. \u201cPaginya kita <em>ikutan workshop <\/em>di UAD tentang Peran Psikologi Forensik dalam Meningkatkan Kesehatan Jiwa Masyarakat, lalu siangnya sekitar pukul dua siang kita berangkat ke <em>Grand Quality Resort <\/em>untuk presentasi paper kita,\u201d ucap Dahniar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paper yang berjudul \u201cPelecehan Seksual, Apa, Siapa, dan Dimana: Sebuah Studi Pendahuluan tentang Pelaku, Korban, dan Tempat Pelecehan Seksual\u201d berawal dari tugas kuliah Psikologi Sosial II, setahun silam. Mahasiswi semester lima ini direkomendasikan oleh salah satu dosen pengampu mata kuliah tersebut untuk melanjutkan penelitian mereka dan mengikutsertakannya pada <em>event <\/em>bergengsi ini. \u201cAwalnya itu tugas Psikologi Sosial II yang diampu Pak Lubab semester kemarin. Lalu kita direkom sama beliau untuk <em>nglanjutin<\/em> penelitian itu karena ada <em>event<\/em> Psikologi Forensik. Penelitian kita kan <em>pas banget<\/em> judulnya, jadi kita ikutan. Kita ngirim abstrak, eh ternyata kita lolos dan kita presentasikan penelitian kita,\u201d jelas Dahniar .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dahniar menganggap bahwa pelecehan seksual bukan lagi hal sepele. Ia juga menjelaskan bahwa hipotesa penelitiannya menyebutkan bahwa lelucon verbal tentang seks pun sudah masuk dalam pelecehan seksual. \u201cKami merasa pelecehan seksual bukan lagi perkara sepele. Hipotesa kami bahwa lelucon verbal tentang seks pun sudah masuk dalam pelecehan seksual,\u201d terangnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dahniar dan timnya berusaha membuktikan bahwa perilaku, korban, dan tempat yang menurut sebagian besar orang aman justru sangat memungkinkan terjadi pelecehan seksual. \u201cJadi hipotesa kami ingin membuktikan bahwa pelaku, korban dan tempat yang menurut semua orang aman justru malah akan terjadi pelecehan seksual,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Presentasi yang berkonsep diskusi panel ini digawangi oleh Diana. \u201cKonsep presentasinya diskusi panel, <em>key speaker-<\/em>nya Diana. Aku, Icha sama Ayas bantu <em>pas <\/em>sesi tanya jawab\u201d tutur Dahniar. Ada kebanggan tersendiri ketika Dahniar dan timnya mempresentasikan hasil penelitian mereka. Namun tidak dapat dipungkiri disamping rasa banggaan, ada perasaan grogi ketika mempresentasikan paper mereka. \u201cAda kebanggan tersendiri dalam diri kami, tapi tidak dapat dipungkiri ada rasa grogi juga. Bagi kami, grogi itu wajar, karena waktu itu semua yang presentasi di ruangan hanya kami <em>doang<\/em> yang mahasiswa. Semuanya dosen, psikolog, dan psikolog rumah sakit jiwa.\u201d jelas Dahniar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berada di tengah-tengah para pakar diberbagai bidangnya masing-masing, membuat Dahniar berharap bahwa suatu saat ia dapat menjadi salah satu pakar dalam bidang psikologi. \u201cDi tengah-tengah pakar di bidangnya masing-masing, tidak ada harapan lain selain nantinya harus dan semoga menjadi seperti mereka,\u201d harapnya. Sedangkan Icha, peserta <em>call for paper <\/em>Apsifor yang lain, berharap mahasiswa psikologi memiliki kompetensi pada bidang psikologi forensik guna membantu negara Indonesia dari permasalahan kriminal. \u201cKalau dari <em>workshop <\/em>yang kemarin secara umum bahas tentang psikologi forensik di ranah hukum maka harapannya semoga kedepannya kita punya kompetensi yang cukup dibidang itu jadi bisa bantu negara kita dari masalah-masalah seperti kriminal dan lain sebagainya yang membutuhkan ilmu psikologi forensik,\u201d harapnya. Icha juga berharap agar bisa terus ikut berpartisipasi pada acara-acara seperti ini untuk menunjukkan eksistensi sebagai mahasiswa psikologi UIN Maliki Malang. \u201cDan semoga kedepannya bisa terus ikut berpartisipasi di acara super keren <em>kayak gitu <\/em>untuk <em>nunjukin <\/em>eksistensi kita sebagai mahasiswa psikologi UIN Malang,\u201d tambahnya. (Red. Ms)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Reportase\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Setyani Alfinuha<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Editor\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Nur Jihan <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">[button href=&#8221;http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/Lelucon-Verbal-Tentang-Seks-Masuk-Dalam-Kategori-Pelecehan-Seksual.pdf&#8221; rounded=&#8221;&#8221; size=&#8221;btn-mini&#8221; style=&#8221;red&#8221; target=&#8221;_blank&#8221;]Simpan Berita[\/button]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PsychoNews \u2013 Satu lagi mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang kembali unjuk kebolehan pada event nasional. Kali ini giliran Dahniar, Ayas, Diana, dan Icha yang berkesempatan untuk mempresentasikan paper mereka dalam ajang call for paper yang diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Kamis lalu (12\/11). \u201cKemaren aku, Diana, Ayas, sama Icha berangkat ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3592","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3592\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}