{"id":3739,"date":"2017-11-16T13:13:25","date_gmt":"2017-11-16T06:13:25","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=4309"},"modified":"2017-11-16T13:13:25","modified_gmt":"2017-11-16T06:13:25","slug":"film-aku-rena-hantarkan-psikologi-uin-juara-3-olimpiade-psikologi-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/film-aku-rena-hantarkan-psikologi-uin-juara-3-olimpiade-psikologi-2017\/","title":{"rendered":"Film \u201cAku Rena\u201d Hantarkan Psikologi UIN Juara 3 Olimpiade Psikologi 2017"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">PsychoNews &#8211; Olimpiade Psikologi 2017 untuk keempat kalinya kembali digelar. Ajang bergengsi ini diadakan setiap dua tahun sekali sebagai agenda rutin Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMPSI). Tahun ini OPI-4 bertempat di Yogyakarta (27-2\/10). Mengusung tema <em>\u201cHarmony in Diversity\u201d,<\/em> pelaksanaan OPI-4 menegaskan bahwa perbedaan yang ada bukanlah suatu penghalang untuk menciptakan keharmonisan dan alasan bagi manusia untuk bersatu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai cabang perlombaan ditawarkan dalam pelaksanaan OPI-4 ini, <em>psychofilm<\/em> salah satunya. Tahun ini, film pendek yang berjudul \u201cAku Rena\u201d hasil kreativitas mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil <em>menyabet<\/em> penghargaan sebagai juara ketiga. Pada perlombaan ini, film \u201cAku Rena\u201d harus bersaing dengan kesebelas film lainnya dalam memperebutkan juara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesuai dengan tema yang diusung dalam OPI-4, yakni <em>\u201cHarmony in Diversity\u201d<\/em>. Tim <em>psychofilm<\/em> memilih untuk mengangkat tema tentang \u201cKepedulian Terhadap Disabilitas\u201d. Film \u201cAku Rena\u201d bercerita tentang pejuangan seorang gadis yang bernama Rena. Ia mengalami gangguan pendengaran ketika SMA, sehingga dalam melakukan aktivitasnya ia selalu menggunakan alat bantu dengar. Ketika masuk jenjang perkuliahan, Rena ingin menjalani kehidupan perkuliahannya dengan normal tanpa diketahui oleh teman-temannya bahwa ia mengalami keterbatasan dalam pendengaran. Alasan ini ia lakukan karena sewaktu SMA Rena mengalami <em>bullying<\/em> yang dilakukan oleh teman-temannya. Akibat dari <em>bullying<\/em> tersebut, Rena menutup diri dari lingkungan sekitarnya dan hanya percaya pada beberapa orang saja termasuk ibu dan temannya, Ghani. Namun karena kesibukan ibunya, Rena tidak memiliki cukup waktu untuk bercerita kepada sang ibu. Sehingga, ia hanya menceritakan keluh kesahnya kepada Ghani, teman khayalannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4311\" aria-describedby=\"caption-attachment-4311\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/dsadsa.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4311\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/dsadsa.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"719\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-4311\" class=\"wp-caption-text\">Bersama Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Elok Halimatus Sakdiyah, M.Si<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut penulis naskah Annisa Trihastuti, film \u201cAku Rena\u201d mengangkat <em>social support <\/em>sebagai aspek psikologisnya. Hal ini dikarenakan saat ini kita lebih sering berinteraksi dalam dunia maya daripada dengan lingkungan sosial seriring dengan berkembangnya <em>gadget<\/em>. Hal ini membuat kita tidak <em>aware <\/em>lagi dengan kehidupan orang-orang di sekitar kita, termasuk kaum penyandang disabilitas. Padahal kaum penyandang disabilitas memerlukan dukungan dan penerimaan kehidupan sosial yang baik dalam lingkungannya. Jangan sampai kejadian <em>bullying<\/em> mahasiswa disabilitas di dalam kampus terulang kembali karena ketidaksadaran manusia akan kaum disabilitas di sekitarnya. Hadirnya sosok Ghani sebagai teman khayalan Rena sebagai bentuk <em>social support<\/em> dari orang-orang terdekat guna menumbuhkan rasa percaya diri bagi penyandang disabilitas. Annisa juga menuturkan kehadiran Ghani sebagai teman khayalan Rena tidak mengkategorikan akan menggangu penyakit Rena. \u201cYang jelas semua persepsi kita kembalikan ke penonton, kalau dari kami ya hanya teman <em>imaginer<\/em> biasa\u201d, tutur mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pembuatan naskah film \u201cAku Rena\u201d dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh tim <em>psychomovie <\/em>dan<em> official team<\/em>. Disini peran <em>official team<\/em> sangat besar dalam pembuatan film ini, mulai dari tahap penyeleksian <em>crew<\/em> hingga pasca produksi film. Dari segi pemeran film, tim <em>psychomovie <\/em>segera melakukan proses <em>casting <\/em>pemain pasca naskah selesai dibuat. Proses <em>casting<\/em> ini dilakukan untuk menemukan mahasiswa yang memiliki bakat <em>acting<\/em> dan totalitas dalam melaksanakan perannya. Proses <em>casting<\/em> pemain dilakukan selama kurang lebih 1 hari dan terpilihlah Fatikhatus Sholikhah sebagai Rena dan Yansa Alif Mulya sebagai Ghani. Sebelum proses syuting dimulai, naskah terlebih dahulu di konsultasikan dengan dosen ahli Fakultas Psikologi, diantaranya adalah Muhammad Mahpur, Yahya, Fathul Lubabin Nuqul, Yusuf Ratu Agung, dan Anwar Fu\u2019ady. Hasil dari kerja keras<em> official<\/em> <em>team <\/em>ternyata membuahkan hasil yang membanggakan, film \u201c Aku Rena\u201d mendapatkan apresiasi sebagai juara ketiga OPI-4. Kemenangan ini sebagai modal awal Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang dalam upaya pengembangan dunia sinematografi sebagai media pembelajaran virtual bagi mahasiswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adanya perbedaan jadwal perkuliahan oleh <em>crew<\/em> dan pemain film diakui Annisa sebagai salah satu kendala dalam pembuatan film ini. \u201cKendalanya kita dikasih waktu tiga minggu sebelum pengumpulan. Karena kita dari berbeda-beda semester terus jadwalnya juga <em>beda-beda<\/em>, jadi ya kita harus mencari waktu yang sesuai. Terus kemarin juga kena hujan dua kali\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Psikologi Indonesia, penjurian dalam lomba ini dilakukan selama 2 tahap. Tahap pertama yakni penjurian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dan tahap kedua ialah presentasi film di hadapan juri <em>psychofilm<\/em>. Sabtu (27\/10) presentasi tim psikologi UIN Malang diwakili oleh Tarin Kurlilah sebagai produser dan Annisa Trihastuti sebagai penulis naskah. Annisa mengaku bahwa ini merupakan kali pertamanya mempersentasikan film apalagi filmnya mempunyai unsur psikologis. \u201cRasanya luar biasa ya kak. Karena kita kan masih baru. Kita tidak tahu sebelumnya presentasi film itu kayak gimana. Apalagi filmnya punya unsur psikologis. Alhamdulillah semuanya lancar saja walaupun jika dibandingkan dengan yang lain presentasi kita tidak sehebat mereka gitu\u201d kenang mahasiswi yang gemar menulis ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Tidak ada manusia yang terlalu baik dan tidak ada manusia yang terlalu buruk. Dibalik sebuah kelemahan, tentu ada sebuah kelebihan, dan tidak ada sebiji <em>dzarrah<\/em> pun sesuatu yang sia-sia. Tidak ada alasan bagi kita untuk menjauhkan diri dari kaum disabilitas, karena kita semua sama di sisi-Nya. Film sederhana ini memberikan kesan menarik bagi kita bahwa secara psikologis, kaum disabilitas mempunyai keinginan untuk \u2018sama\u2019 dengan yang lain tanpa dibedakan dalam sisi apapun. Di sinilah poin penting bahwa sebagai manusia yang tidak mempunyai daya tanpa izin-Nya,\u00a0 kita harus senantiasa bersyukur atas setiap detik nafas yang\u00a0 diberikan kepada kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Islam sebagai agama yang <em>rahmatan lil alamin<\/em> selalu mengajarkan kasih sayang kepada semua makluknya. Dukungan emosional termasuk dalam aspek dari dukungan sosial yang paling utama. Dukungan ini mencakup ungkapan empati, kasih sayang, kepedulian dan perhatian terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai, dan diperhatikan. Dukungan ini diantaranya memberikan perhatian atau afeksi dan bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Demikianlah islam menyerukan kepada umatnya untuk saling mengasihi satu sama lain seperti yang tertuang dalam QS. Al Balad ayat 17 yang artinya <em>\u201cdan Dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang\u201d.<\/em> Tuhan mempunyai kasih sayang yang Maha Luas, jika Dia memberikan perintah kepada kita untuk senantiasa menyayangi sesama, lantas apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengharap kasih sayang-Nya? Semoga sedikit ilmu yang tertuang dalam film \u201cAku Rena\u201d ini mampu membuat kita lebih dekat dengan-Nya. (Red. ms)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Reportase\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Wachidatul Zulfia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Editor\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0 \u00a0 : Faatihatul Ghaybiyyah, Fauza Nur Hidayah<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">[button href=&#8221;http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/Film-\u201cAku-Rena\u201d-Hantarkan-Psikologi-UIN-Juara-3-Olimpiade-Psikologi-2017.pdf&#8221; rounded=&#8221;&#8221; size=&#8221;btn-mini&#8221; style=&#8221;red&#8221; target=&#8221;_blank&#8221;]Simpan[\/button]<\/p>\n<p>&nbsp; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PsychoNews &#8211; Olimpiade Psikologi 2017 untuk keempat kalinya kembali digelar. Ajang bergengsi ini diadakan setiap dua tahun sekali sebagai agenda rutin Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMPSI). Tahun ini OPI-4 bertempat di Yogyakarta (27-2\/10). Mengusung tema \u201cHarmony in Diversity\u201d, pelaksanaan OPI-4 menegaskan bahwa perbedaan yang ada bukanlah suatu penghalang untuk menciptakan keharmonisan dan alasan bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3739","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3739","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3739"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3739\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3739"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3739"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3739"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}