{"id":3524,"date":"2015-04-28T09:21:00","date_gmt":"2015-04-28T02:21:00","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=2865"},"modified":"2015-04-28T09:21:00","modified_gmt":"2015-04-28T02:21:00","slug":"kreatifitas-pengakuan-dan-pengayaan-rangsangan-pada-anak-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/kreatifitas-pengakuan-dan-pengayaan-rangsangan-pada-anak-3\/","title":{"rendered":"Kreatifitas, Pengakuan dan Pengayaan Rangsangan Pada Anak (3)"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_2866\" aria-describedby=\"caption-attachment-2866\" style=\"width: 1038px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Parenting-3.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-2866\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Parenting-3.jpg\" alt=\"Aktifitas mengasah motorik halus  dalam merangkai permainan Cubecraft. Permainan ini dapat  melatih hubungan positif antar-anggota keluarg di rumah \" width=\"1038\" height=\"780\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2866\" class=\"wp-caption-text\"><strong>Zahra (Kiri) dan Isryad (Kanan):<\/strong> Aktifitas mengasah motorik halus dalam merangkai permainan Cubecraft<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang bapak menanyakan bagaimana mengembangkan kreatifitas anak sehingga <strong>orang tua<\/strong> mampu mendukung perkembangan anak tidak semata-mata menuntut kesuksesan akademik seperti nilainya bagus dengan ranking 10 terbesar, bahkan mendekati ranking pertama. Audiens lain juga menanyakan manakah yang lebih penting diantara IQ-EQ-SQ. Refleksi lanjutan melihat pengalaman menjadi sukses <em>toh <\/em>pada akhirnya tidak terpaku pada indikator sukses akademik. Seorang bapak yang lain bercerita, saya punya teman yang dahulu tidak begitu pintar di sekolah, tetapi sekarang menjadi penda\u2019i sukses, sementara yang ranking satu hidupnya pun biasa saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya juga bertanya ke salah satu audiens <strong>orang tua<\/strong> yang kebetulan berprofesi sebagai bos studio foto. Bekal mendirikan studio foto membutuhkan tidak semata terpaku pada prestasi akademik, tetapi di masa perkembangannya ternyata si bapak ini menyukai foto, atau kegiatan menggambar. Saya menduga, bakat (terpendam) foto ini yang mendorong si bapak berani membuka usahanya. Keputusan tersebut didorong oleh motivasi internal karena dia merasa meyakini kemampuan usahanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merintis, mengumpulkan modal, mencoba hal baru, dan memutuskan sebuah profesi tentunya didasari oleh motif dasar yang boleh jadi tidak disadari namun menjadi pendorong utama untuk <em>survival <\/em>(memenangi kehidupannya). Ia boleh jadi menundukkan tantangan, membuat <strong>kreasi<\/strong>, membangun dan mengelola lingkungan baru, mempromosikan untuk meningkatkan penjualan karya. Semua didasari oleh dorongan internal yang tidak cukup berbekal ranking di sekolah tetapi menumbuhkan <strong>kreatifitas<\/strong> dan daya juang orang. Sosok ini membutuhkan pribadi yang berkarakter. Kesuksesan lahir dari dorongan yang kuat atas inisiatif yang dipilih serta mewujudkannya secara <strong>kreatif<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dorongan ini akan tumbuh jika perkembangan <strong>kreatif<\/strong> anak terfasilitasi dengan baik. Anak <strong>kreatif<\/strong> berkembang dengan dorongan internal yang kuat. Ia berusaha mengeksplorasi, mencoba, mengambil keputusan mandiri, dan terus mencari perbaikan terus menerus untuk mencapai hasil yang diinginkan. Anak berkembang dengan melatih kemampuan berjuang dan mencipta. Perkembangan ini semakin memandirikan anak dalam hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menjawab pertanyaan tentang <strong>kreatifitas<\/strong>, kebetulan saya mendapati anak laki-laki saya (10 tahun), Irsyad, sedang asyik membuat permainan Cubecraft. Permainan ini membutuhkan gerak <strong>kreatif<\/strong> mencipta sebuah miniatur kartun dengan mengintegrasikan berbagai kemampuan antara lain kemampuan teknologi-informasi, spasial, melipat, menggunting, kerja kelompok, merekonstruksi dan latihan enterpreneur. Dia mengetahui <strong>permainan<\/strong> barunya dari teman di sekolah. Cubecraft adalah permainan merekonstruksi sketsa kartun. Sketsa tersebut jika dirangkai akan membentuk <strong>permainan<\/strong> kartun empat dimensi yang disusun dari kertas. Sketsa kartun dapat ditemukan di google. Dari hasil pelacakan Irsyad di google, dia berhasil mengidentifikasi 25 jenis gambar kartun yang dia namai berdasarkan hasil temuannya. Saya sendiri tidak membayangkan kegiatan ini membutuhkan <strong>kreatifitas<\/strong> tersendiri bagi anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Permainan<\/strong> yang dipilih anak seperti ini merupakan contoh anak bergerak <strong>kreatif<\/strong> dan independen. Sebuah proses belajar yang didasari oleh motivasi dari dalam diri anak. Anak belajar <em>passion. <\/em>Rasa ingin tahu dipenuhi dengan usaha dan berbagai cara yang ditemukannya sendiri. Melaui <strong>permainan<\/strong> Cubecraft, Irsyad mengujicoba. Dia juga gagal mencetak karena saya melihat resolusi gambar yang disalin dari google terlalu kecil sehingga hasil <em>print-out<\/em>nya pecah. Dia kemudian menceritakan pengalaman itu. Dia mencetak gambar itu sendiri di suatu rental. Melihat kegagalan dia, saya lantas memberitahu teknik <em>searching<\/em> di google dan menyampaikan jika gambar yang diunduh perlu melihat nilai resolusi sehingga kalau dicetak tidak pecah. Diapun memahami dan <em>searching<\/em> kembali ke google. Kualitas gambar yang beresolusi cukup tinggi mampu diunduhnya. Dia simpan di flashdisk dan dicetaknya lembar per lembar di rental. Terkadang saya membantu mencarikan bahan kertas, dan sesekali mengantar dia mencetak di sebuah rental. Lanjut membaca <a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/?p=2871\"><span style=\"color: #ff0000;\"><em><strong>kreatifitas, pengakuan dan pengayaan rangsangan pada anak seri ke-(4).<\/strong><\/em><\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penulis:<\/strong> Dr. Mohammad Mahpur, M.Si<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Kreatifitas-Pengakuan-dan-Pengayaan-Rangsangan-Pada-Anak-file-sambungan.pdf\"><span style=\"color: #000080;\"><strong>&gt;&gt;Simpan Artikel<\/strong><\/span><\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang bapak menanyakan bagaimana mengembangkan kreatifitas anak sehingga orang tua mampu mendukung perkembangan anak tidak semata-mata menuntut kesuksesan akademik seperti nilainya bagus dengan ranking 10 terbesar, bahkan mendekati ranking pertama. Audiens lain juga menanyakan manakah yang lebih penting diantara IQ-EQ-SQ. Refleksi lanjutan melihat pengalaman menjadi sukses toh pada akhirnya tidak terpaku pada indikator sukses akademik. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3524","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3524"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3524\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}