{"id":3464,"date":"2014-12-09T07:26:23","date_gmt":"2014-12-09T00:26:23","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=2499"},"modified":"2014-12-09T07:26:23","modified_gmt":"2014-12-09T00:26:23","slug":"neno-warisman-orangtua-jangan-biarkan-anak-di-abuse-hanya-paham-calistung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/neno-warisman-orangtua-jangan-biarkan-anak-di-abuse-hanya-paham-calistung\/","title":{"rendered":"Neno Warisman: Orangtua Jangan Biarkan Anak di Abuse, Hanya Paham Calistung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/IMG-20141207-WA0006.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-2500\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/IMG-20141207-WA0006.jpg\" alt=\"Neno Warisma Psikologi UIN Malang\" width=\"1058\" height=\"635\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PsychoNews<\/strong> &#8211; Rangkaian kegiatan Psychofunday 2014 yang diadakan DEMA Fakultas Psikologi tahun ini menampilkan konsep yang cukup berbeda dari tahun sebelumnya. Seminar <em>parenting <\/em>dan <em>education<\/em> yang bertajuk \u201cMenumbuhkan Semangat Cinta Al-Quran pada Anak dan Remaja\u201d dengan narasumber Neno Warisman menjadi tonggak pembuka <em>event<\/em> garapan dewan eksekutif mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maliki. Seminar yang dimoderatori oleh <em>eyang<\/em> Wiwiek Juwono ini berlangsung di Gedung Ir. Soekarno UIN Maliki Malang (5\/12). Wanita yang sekarang aktif di dunia sosial dan pendidikan ini menyatakan bahwa setiap orang akan berprofesi sebagai orang tua. \u201cKita nggak pasti jadi Dekan, DPR, yang pasti menjadi ibu dan ayah,\u201d ungkapnya. Ia menyampaikan materi bahwa harapan terbesarnya adalah lahirnya generasi yang lebih baik dari orang tua yang lebih baik pula. \u201cHarus lahir generasi yang lebih baik,\u201d katanya berulang-ulang dengan penuh semangat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Neno menjelaskan, baik dirinya maupun anak-anaknya tidaklah hafal Al-Quran, namun ia senantiasa mengajari anaknya tentang pemahaman Al-Quran dalam perilaku sehari-hari. \u201c<em>The important thing is doing what Allah says<\/em>. Untuk apa kalian menghafal Al-Quran jika kamar mandi kalian masih kotor? Jika kalian masih membuang sampah dan meludah sembarangan?\u201d imbuh wanita berusia 51 tahun ini. Sehingga menurutnya, \u201cAgama bukan hafalan, agama adalah praktik.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wanita bernama asli Titi Widoretno Warisman ini menyampaikan pesan bagi audiens agar senantiasa memandang seorang anak dengan rasa takjub. \u201cPandanglah anakmu dengan mata keajaiban,\u201d ujarnya. Kemudian ia menambahkan bahwa, \u201corangtua yang ceroboh adalah yang membiarkan anaknya (yang kecil) di-<em>abuse<\/em> untuk bisa calisting (baca-tulis-hitung),\u201d Baginya, anak-anak merupakan masa bermain dan jangan dihukum karena mereka sedang belajar. \u201cTidak ada anak yang nakal, mereka hanyalah belajar dengan cara yang berbeda. Ada tiga hal yang anak dapatkan dengan perilaku yang dianggap nakal, yakni anak belajar mengekspresikan dirinya, membereskan (mengontrol) emosi, dan mempelajari sesuatu dengan detail,\u201d jelas wanita kelahiran Banyuwangi ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara menumbuhkan semangat cinta Al-Quran pada anak dan remaja bagi Neno adalah dengan menanamkan nilai-nilai ayat Al-Quran dalam perilaku sehari-hari. \u201cTanam Al-Quran dengan praktiknya, tidak hanya menghafal, tetapi juga maknanya,\u201d ungkap ibu tiga anak ini. Kemudian, ia berpesan bahwa orang tua seharusnya menjadikan anaknya sebagai subjek, bukan objek. Sehingga, orang tua tidak menuntut anak berdasarkan nilai-nilai yang dianut oleh orang tua. Sebaliknya, orang tua membimbing dan mengontrol anak dengan nilai-nilai yang dipahami sang anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Neno Warisman merupakan sosok yang sangat inspiratif bagi para orang tua. Ia mendidik anaknya dengan meminimalkan menghakimi sang anak (memarahi). Neno senantiasa memandang anaknya dengan mata keajaiban dan ketakjuban pada dunia anak yang sesungguhnya. Menurutnya, orang tua harus mengizinkan anaknya untuk berbuat salah, karena di sanalah anak akan belajar melalui pengalamannya. Pola asuh demokratis yang dilakukan Neno menjadikan anak-anaknya menjadi pribadi yang memahami Al-Quran sebagai pedoman hidup yang harus dipraktikan, tidak hanya dihafalkan. Itulah bentuk kecintaan yang paling baik pada Al-Quran. Neno mengakhiri materinya dengan sebuah kalimat, \u201clakukanlah satu ayat dengan seluruh dirimu, itu lebih baik, karena tidak ada hidup yang lebih indah selain hidup bersama Al-Quran,\u201d tutupnya. (Red. Ms)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Reportase<\/strong>: Sofia Musyarrafah<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><a href=\"\/ar\/Neno%20Warisman, Orangtua, Abuse, Calistung, Wiwiek Juwono\/\"><span style=\"color: #000080;\"><strong>&gt;&gt;simpan artikel<\/strong><\/span><\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PsychoNews &#8211; Rangkaian kegiatan Psychofunday 2014 yang diadakan DEMA Fakultas Psikologi tahun ini menampilkan konsep yang cukup berbeda dari tahun sebelumnya. Seminar parenting dan education yang bertajuk \u201cMenumbuhkan Semangat Cinta Al-Quran pada Anak dan Remaja\u201d dengan narasumber Neno Warisman menjadi tonggak pembuka event garapan dewan eksekutif mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maliki. Seminar yang dimoderatori oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3464","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3464"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3464\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}