{"id":3355,"date":"2014-05-28T15:24:48","date_gmt":"2014-05-28T08:24:48","guid":{"rendered":"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/?p=1541"},"modified":"2014-05-28T15:24:48","modified_gmt":"2014-05-28T08:24:48","slug":"perilaku-responsif-orang-tua-tumbuhkan-self-confidance-anak-part-i","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/perilaku-responsif-orang-tua-tumbuhkan-self-confidance-anak-part-i\/","title":{"rendered":"Perilaku Responsif Orang Tua Tumbuhkan Self Confidence Anak (Part I)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Seminar-Parenting-Psikologi-UIN-Malang.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1542\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Seminar-Parenting-Psikologi-UIN-Malang-300x224.jpg\" alt=\"Seminar Parenting Psikologi UIN Malang\" width=\"300\" height=\"224\" \/><\/a>PsychoNews<\/strong> &#8211; \u201cJika berbicara tentang kepercayaan diri, apa penyebab ketidakpercayaan diri yang dimiliki mahasiswa sekarang ini? Sesungguhnya fondasi dasar kepercayaan diri berasal dari awal kehidupan anak\u201d. Itulah kalimat pembuka yang disampaikan oleh Dr. Elok Halimatus Sakdiyah, M. Si selaku narasumber di Seminar Parenting (27\/5). Beliau memaparkan bahwa orang tua sebenarnya adalah pembentuk utama dari kepercayaan diri anak. Selain melalui faktor genetika, pola asuh yang diberikan<!--more--> orang tua terhadap anak juga merupakan faktor penentu kepribadian anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang tua adalah lingkungan pertama yang dikenal anak. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengasuh anak sangat penting bagi kehidupan anak. Perilaku responsif, dikatakan Elok merupakan salah satu peran yang harus dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak. \u201cOrang tua yang responsif terhadap kebutuhan anaknya akan membuat sang anak merasa dicintai dan dihargai. Anak akan merasa mereka memang pantas untuk dicintai,\u201d ujar dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan ini. Perasaan anak tersebut akan menumbuhkan kepercayaannya pada dunia luar dan juga pada dirinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh dari perilaku responsif orang tua adalah ketika anak melakukan kesalahan, tentu orang tua harus menegurnya secara baik, sehingga anak tidak menjadi rendah diri namun tetap mengetahui kesalahannya. Selain itu ketika anak mendapat prestasi, sebagai orang tua, Elok mengaku bahwa ia tidak memuji prestasi yang didapat anaknya, namun ia memuji usahanya. \u201cKetika anak saya mendapat prestasi, saya tidak memuji prestasinya, namun saya memuji usahanya. Saat kita, sebagai orang tua memuji prestasinya, maka ada beban dibenak anak bahwa ia harus berprestasi untuk mendapat pujian. Sedangkan seharusnya, kita memuji usaha-usaha yang dilakukan sang anak dalam proses meraih prestasi, sehingga anak tetap terjaga motivasinya dalam berusaha,\u201d jelas perempuan asal Pasuruan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana teori psikososial Erik Erikson yang menyatakan bahwa bayi usia 0-18 bulan berada dalam tahap krisis <em>trust vs misstrust<\/em>. Tahap ini menuntut anak untuk memiliki kepercayaan pada dunia luar, dan dalam hal ini hubungan interpersonal dengan orang tua-lah yang menentukan keberhasilan anak. Ketika anak diberi kasih sayang dan perhatian pada tahap ini, maka anak akan memiliki <em>trust<\/em> yang baik terhadap dunia luar. Hal itu merupakan modal utama bagi anak untuk berhasil dalam tahap-tahap perkembangan berikutnya. (Red.qr)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Reportase:<\/strong> Sofia Musyarrafah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/?p=1209\">Raih Gelar Doktor Temukan Model Perilaku Sehat Remaja<\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/?p=1442\">Cognitif Behavioral Therapy (CBT)<\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/?p=1433\">Kasus Jakarta Internastional School (JIS), Efek dari Phedofilia<\/a><\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/?p=1268\">Otak Anak Autis Miliki Badan Sel Saraf 67 Persen Lebih Banyak <\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p><a href=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Perilaku-Responsif-Orang-Tua-Tumbuhkan-Self-Confidence-Anak-Part-I.pdf\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft  wp-image-1213\" src=\"http:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/ubduh-berita-button.png\" alt=\"ubduh berita button\" width=\"148\" height=\"37\" \/><\/a> <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PsychoNews &#8211; \u201cJika berbicara tentang kepercayaan diri, apa penyebab ketidakpercayaan diri yang dimiliki mahasiswa sekarang ini? Sesungguhnya fondasi dasar kepercayaan diri berasal dari awal kehidupan anak\u201d. Itulah kalimat pembuka yang disampaikan oleh Dr. Elok Halimatus Sakdiyah, M. Si selaku narasumber di Seminar Parenting (27\/5). Beliau memaparkan bahwa orang tua sebenarnya adalah pembentuk utama dari kepercayaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3355","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3355","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3355"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3355\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3355"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3355"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikologi.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3355"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}