Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menerima kunjungan akademik dari Direktorat Islamisasi Ilmu Pengetahuan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Kunjungan ini dihadiri oleh para pimpinan dan dosen UNIDA Gontor dengan tujuan memperdalam wawasan terkait Integrasi Quantum Agama dan Sains kepada salah satu ahli di bidangnya, Prof. Dr. H. Achmad Khudori Soleh, M.Ag. Beliau merupakan Profesor di bidang Filsafat Islam, yang telah banyak mengkaji relasi antara agama dan sains.
Dalam sesi diskusi akademik, Prof. Khudori membahas konsep Integrasi Quantum sebagai Model Alternatif Integrasi Agama dan Sains. Beliau menekankan bahwa dalam konteks akademik, integrasi antara ilmu keislaman dan sains modern merupakan pilihan terbaik dalam memahami hubungan keduanya. Model ini, menurutnya, merupakan bagian dari amanat keilmuan UIN Malang dalam membangun pendekatan ilmiah yang tidak mengesampingkan nilai-nilai Islam.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa konsep integrasi berbeda dengan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi merupakan upaya mengubah ilmu pengetahuan dari luar agar sesuai dengan tradisi dan budaya Islam. Dalam hal ini, Islamisasi sering kali dilakukan dengan mengadaptasi konsep Barat agar dapat diterima dalam konteks Islam. Sebaliknya, integrasi bertujuan untuk mempertemukan ilmu Barat dan Islam sehingga menghasilkan ilmu baru yang tidak hanya bersumber dari satu tradisi, tetapi merupakan perpaduan dari keduanya.
Dalam pembahasannya, Prof. Khudori juga menyoroti bahwa konsep integrasi yang ada masih memiliki keterbatasan. Salah satu tantangannya adalah bagaimana membangun sistem keilmuan yang mampu mengakomodasi pendekatan Islam dan sains modern secara seimbang. Oleh karena itu, menurutnya, perlu adanya kajian lebih mendalam dan model yang lebih komprehensif dalam pengembangan konsep ini.
Selain itu, Prof. Khudori juga menjelaskan mengapa diperlukan integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan. Salah satu alasannya adalah adanya perbedaan basis ontologis, basis empiris, dan basis aksiologis antara Islam dan sains modern. Dalam ilmu Barat, realitas sering kali dipahami dengan pendekatan materialistik, sedangkan dalam Islam, realitas memiliki dimensi spiritual yang tidak bisa dilepaskan dari konsep keimanan.
Dari sisi basis empiris, ilmu pengetahuan modern sangat bergantung pada pengamatan dan eksperimen, sementara dalam Islam, ilmu juga dapat diperoleh melalui wahyu dan pengalaman batin. Oleh karena itu, integrasi menjadi penting agar kedua pendekatan ini dapat saling melengkapi dan memperkaya khazanah keilmuan.
Dari aspek basis aksiologis, sains modern cenderung bersifat netral dan objektif, sedangkan dalam Islam, ilmu pengetahuan harus memiliki tujuan moral dan manfaat bagi umat manusia. Hal ini menjadikan integrasi sebagai pendekatan yang lebih inklusif dibandingkan dengan sekadar mengislamkan ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat.
Kunjungan akademik ini berlangsung dengan penuh antusiasme, di mana para dosen UNIDA Gontor berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai tantangan serta peluang dalam mengembangkan integrasi ilmu Islam dan sains modern. Mereka juga menyampaikan apresiasi atas penjelasan yang diberikan oleh Prof. Khudori, yang dinilai memberikan perspektif baru dalam memahami relasi antara Islam dan sains di dunia akademik.
Kegiatan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi kerja sama lebih lanjut antara UNIDA Gontor dan UIN Malang dalam bidang penelitian dan pengembangan ilmu berbasis integrasi Islam dan sains. Para peserta pun berharap agar kajian semacam ini terus dikembangkan guna memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Dengan adanya diskusi ini, diharapkan konsep integrasi ilmu Islam dan sains modern dapat terus berkembang, sehingga menghasilkan model keilmuan yang tidak hanya rasional dan empiris, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan etika Islam.
Fahmi




