Rasa Keingintahuan tentang Islamization of Knowledge Hantarkan Gwan Hingga ke Negeri Jiran

 Sosok

Ragwan Al Aydrus Pose di Halaman Depan Petronas yang berada di Pusat kota Malaysia

 

Aku sempat ngerencanain untuk apply di salah satu universitas di Indonesia, tapi qadarullah jalannya lebih dekat kesini, dan aku yakin ada manfaat dan hikmahnya.”

PsychoNews – Gwan, sapaan akrab alumni Fakultas Psikologi 2013 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kini tengah merampungkan tesisnya tentang Self-directed Learning Readiness Among High School Students di International Islamic University Malaysia (IIUM). Menjadi mahasiswi internasional tentunya bukan hal yang mudah bagi pemilik nama lengkap Ragwan Al-Aydrus ini. Meskipun tak begitu jauh dari Indonesia, tetap saja, merantau ke Malaysia membuatnya kerap rindu pada keluarga. Tapi apa mau dikata, rasa keingintahuannya tentang Islamization of Knowledge (IOK) akhirnya menghantarkan perempuan berdarah Arab Sulawesi ini hingga ke negeri Jiran.

Berangkat pada awal Januari 2016, Gwan mengawali pendidikannya dengan cara self-funded.  Beasiswa pun dicobanya dengan berbekal CGPA (IPK) yang memadai. Menurutnya, untuk berkuliah di IIUM, tak banyak persyaratan yang dibebankan. Seperti halnya Universitas lain, pendaftar hanya perlu megirim beberapa dokumen sebagai syarat, dan akan menjalani wawancara jarak jauh jika dibutuhkan.

Tidak banyak perbedaan kuliah di Indonesia dan Malaysia. Secara lingkungan dan budaya, Indonesia dan Malaysia mempunyai kemiripan.  “Aku gak bisa menggeneralisir perbedaannya nih, jadi aku coba ceritain kondisi di IIUM aja ya. Sebenarnya gak banyak perbedaan kalau dari segi lingkungan, secara budaya kita dan Malaysia hampir-hampir miriplah. Apalagi disini buanyak mahasiswa Indonesia juga. Jadi tetap berasa kayak rumah sendiri. Perbedaan diperkuliahan salah satunya di Bahasa pengantar. Mostly universitas di Malaysia menggunakan Bahasa inggris, kecuali di beberapa kampus yang memang ingin “merawat” penggunaan Bahasa Melayu seperti UKM.” Jelas perempuan kelahiran Palu, 8 Juli 1991 ini.

Hal unik yang Gwan dapatkan dari kampus ini adalah prinsip Islam yang ditanamkan dalam proses akademik. “ Satu hal yang mungkin kamu nggak dapatkan dari kampus lain di IIUM adalah fondasi keilmuwan Islam yang coba ditanamkan ke mahasiswa. Idealismenya gini, jadi apapun jurusannya, kamu perlu menguasai worldview Islam supaya  kamu bisa jadi professional atau ilmuwan yang merefleksikan identitas kamu sebagai Muslim. Misalnya saja, mahasiswa S1 Psikologi di sini dapat memilih minor di bidang Qur’an sunnah, ini bagian dari proses Islamisasi Ilmu“ tutur mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2009 ini. Gwan menambahkan lingkungan masyarakat di Malaysia, khusunya kampus IIUM sangat kondusif untuk kehidupan mahasiwa muslim. Beberapa teman yang berasal dari minoritas muslim mengaku memilih IIUM karena faktor lingkungan yang tidak bisa mereka dapatkan jika kembali ke negaranya. Tentang sistem kuliah, Gwan menjelaskan bahwa di IIUM dirinya mengambil mix-mode. “Kuliahnya full, aku sendiri mengambil mix-mode, perpaduan coursework dan research. Jadi aku punya beberapa mata kuliah spesialis dan wajib. Belum lagi pre-requisite (mata kuliah pra-syarat) dan kelas bahasa di semester awal. Karena itu, sekarang aku masih terhitung semester tiga, dan dalam proses pengerjaan tesis. Doain semoga dimudahkan ya.” Jelas Gwan.

Belajar di negeri tetangga tentunya memberikan banyak pengalaman bagi Gwan, salah satu pengalaman mengesankan bagi Gwan adalah ketika bisa mengenal semangat dan optimis kawan-kawan Muslim dari berbagai belahan dunia. “Salah satu yang paling mengesankan, aku bisa mengenal dekat kawan-kawan Muslim dari kelompok minoritas atau yang berasal dari daerah konflik. Bagaimana mereka melanjutkan Pendidikan dengan optimis meski harus bertahun-tahun nggak kembali ke negaranya, karena jika kembali, bisa jadi mereka nggak lagi diizinkan untuk melanjutkan kuliah. Pengungsi perang seperti dari Syiria dan Yaman juga banyak.” Terang perempuan yang mempunyai hobi blogging dan membuat kue ini.

Bersama Prof. Malik Badri (Pionir Psikologi Islam) dalam Seminar Psikologi Islam di Malaysia

“Di antara mereka ada yang harus belajar Bahasa inggris dari awal di kelas persiapan meski harus berkali-kali gagal. Di samping juga harus mencari pemasukan untuk bertahan hidup. “seringkali aku kepikiran, jangan-jangan selama ini aku masih di comfort zone, dari situ kalau ngerasa malas dikit, inget aja temen-temen yang mau belajar tapi perjuangan mereka jauh lebih berat”. Selain itu, mahasiswa IIUM berasal dari banyak negara, karena itu tentunya mereka punya perbedaan tradisi hingga mazhab fiqih, mulai dari pakaian hingga cara shalat. Hal seperti ini bisa bikin kamu lebih open-minded dalam beragama.” Imbuh Gwan.

Ketika ditanya tentang alasan mengapa memilih IIUM sebagai kampus untuk melanjutkan jenjang magisternya, Gwan menjelaskan bahwa sejak S1, Gwan sudah mempunyai keinginan untuk melanjutkan di IIUM. “Alasannya nggak terlepas dari idealism aku juga sih, hehe. Sejak S1 aku udah punya keinginan melanjutkan kuliah di IIUM untuk memuaskan keingintahuan mengenai ide Islamization of Knowledge (IOK). Islamization of Knowledge (IOK) adalah upaya untuk mengadaptasi ilmu pengetahuan kontemporer agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Kebetulan ada jurusan yang aku minati juga. Aku sempat ngerencanain untuk apply di salah satu universitas di Indonesia, tapi qadarullah jalannya lebih dekat kesini, dan aku yakin ada manfaat dan hikmahnya.” Tegas perempuan yang memilih Educational Psychology sebagai peminatan untuk jenjang magister.

Gedung Rektorat Bagian Depan Kampus IIUM, Malaysia

Rencana Gwan setelah lulus dari International Islamic University Malaysia adalah ingin fokus pada penelitian (research), mengembangkan kompetensi sebagai peneliti dan menjadi akademisi. “Selain itu juga InsyaAllah merintis usaha yang berhubungan dengan media belajar, mohon doanya”. Pungkas perempuan 26 tahun ini.

Bagi Gwan, kuliah di negeri Jiran bukanlah cita-cita utama. Gwan menganggap ini adalah salah satu jalan yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk mengantongi ilmu-Nya yang Maha Luas. “Kuliah di luar negeri sebenarnya bukan cita-cita, tapi hanya jalan. Aku sadar ketika semakin belajar, ternyata semakin banyak nggak tahunya, dan masih banyak PR yang harus dikerjakan. Cita-cita aku yang lain menyangkut kompetensi diri yang ingin aku kembangkan, juga kontribusi apa yang bisa aku berikan dari ilmu yang aku punya terutama di bidang Pendidikan. Aku nggak bisa merinci semua, mungkin yang terdekat mewujudkan rencana setelah lulus master ini.” jelas Gwan.(red.ms)

Penulis             : Faatihatul Ghaybiyyah (Ifa)

Simpan

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: