Film “Aku Rena” Hantarkan Psikologi UIN Juara 3 Olimpiade Psikologi 2017

 Suara Mahasiswa

Penganugerahan juara yang diwakilkan oleh Gerin Prakoso (kanan) selaku sutradara

PsychoNews – Olimpiade Psikologi 2017 untuk keempat kalinya kembali digelar. Ajang bergengsi ini diadakan setiap dua tahun sekali sebagai agenda rutin Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMPSI). Tahun ini OPI-4 bertempat di Yogyakarta (27-2/10). Mengusung tema “Harmony in Diversity”, pelaksanaan OPI-4 menegaskan bahwa perbedaan yang ada bukanlah suatu penghalang untuk menciptakan keharmonisan dan alasan bagi manusia untuk bersatu.

Berbagai cabang perlombaan ditawarkan dalam pelaksanaan OPI-4 ini, psychofilm salah satunya. Tahun ini, film pendek yang berjudul “Aku Rena” hasil kreativitas mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil menyabet penghargaan sebagai juara ketiga. Pada perlombaan ini, film “Aku Rena” harus bersaing dengan kesebelas film lainnya dalam memperebutkan juara.

Sesuai dengan tema yang diusung dalam OPI-4, yakni “Harmony in Diversity”. Tim psychofilm memilih untuk mengangkat tema tentang “Kepedulian Terhadap Disabilitas”. Film “Aku Rena” bercerita tentang pejuangan seorang gadis yang bernama Rena. Ia mengalami gangguan pendengaran ketika SMA, sehingga dalam melakukan aktivitasnya ia selalu menggunakan alat bantu dengar. Ketika masuk jenjang perkuliahan, Rena ingin menjalani kehidupan perkuliahannya dengan normal tanpa diketahui oleh teman-temannya bahwa ia mengalami keterbatasan dalam pendengaran. Alasan ini ia lakukan karena sewaktu SMA Rena mengalami bullying yang dilakukan oleh teman-temannya. Akibat dari bullying tersebut, Rena menutup diri dari lingkungan sekitarnya dan hanya percaya pada beberapa orang saja termasuk ibu dan temannya, Ghani. Namun karena kesibukan ibunya, Rena tidak memiliki cukup waktu untuk bercerita kepada sang ibu. Sehingga, ia hanya menceritakan keluh kesahnya kepada Ghani, teman khayalannya.

Bersama Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Elok Halimatus Sakdiyah, M.Si

 

Menurut penulis naskah Annisa Trihastuti, film “Aku Rena” mengangkat social support sebagai aspek psikologisnya. Hal ini dikarenakan saat ini kita lebih sering berinteraksi dalam dunia maya daripada dengan lingkungan sosial seriring dengan berkembangnya gadget. Hal ini membuat kita tidak aware lagi dengan kehidupan orang-orang di sekitar kita, termasuk kaum penyandang disabilitas. Padahal kaum penyandang disabilitas memerlukan dukungan dan penerimaan kehidupan sosial yang baik dalam lingkungannya. Jangan sampai kejadian bullying mahasiswa disabilitas di dalam kampus terulang kembali karena ketidaksadaran manusia akan kaum disabilitas di sekitarnya. Hadirnya sosok Ghani sebagai teman khayalan Rena sebagai bentuk social support dari orang-orang terdekat guna menumbuhkan rasa percaya diri bagi penyandang disabilitas. Annisa juga menuturkan kehadiran Ghani sebagai teman khayalan Rena tidak mengkategorikan akan menggangu penyakit Rena. “Yang jelas semua persepsi kita kembalikan ke penonton, kalau dari kami ya hanya teman imaginer biasa”, tutur mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang.

Proses pembuatan naskah film “Aku Rena” dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh tim psychomovie dan official team. Disini peran official team sangat besar dalam pembuatan film ini, mulai dari tahap penyeleksian crew hingga pasca produksi film. Dari segi pemeran film, tim psychomovie segera melakukan proses casting pemain pasca naskah selesai dibuat. Proses casting ini dilakukan untuk menemukan mahasiswa yang memiliki bakat acting dan totalitas dalam melaksanakan perannya. Proses casting pemain dilakukan selama kurang lebih 1 hari dan terpilihlah Fatikhatus Sholikhah sebagai Rena dan Yansa Alif Mulya sebagai Ghani. Sebelum proses syuting dimulai, naskah terlebih dahulu di konsultasikan dengan dosen ahli Fakultas Psikologi, diantaranya adalah Muhammad Mahpur, Yahya, Fathul Lubabin Nuqul, Yusuf Ratu Agung, dan Anwar Fu’ady. Hasil dari kerja keras official team ternyata membuahkan hasil yang membanggakan, film “ Aku Rena” mendapatkan apresiasi sebagai juara ketiga OPI-4. Kemenangan ini sebagai modal awal Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang dalam upaya pengembangan dunia sinematografi sebagai media pembelajaran virtual bagi mahasiswa.

Adanya perbedaan jadwal perkuliahan oleh crew dan pemain film diakui Annisa sebagai salah satu kendala dalam pembuatan film ini. “Kendalanya kita dikasih waktu tiga minggu sebelum pengumpulan. Karena kita dari berbeda-beda semester terus jadwalnya juga beda-beda, jadi ya kita harus mencari waktu yang sesuai. Terus kemarin juga kena hujan dua kali” jelasnya.

Bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Psikologi Indonesia, penjurian dalam lomba ini dilakukan selama 2 tahap. Tahap pertama yakni penjurian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dan tahap kedua ialah presentasi film di hadapan juri psychofilm. Sabtu (27/10) presentasi tim psikologi UIN Malang diwakili oleh Tarin Kurlilah sebagai produser dan Annisa Trihastuti sebagai penulis naskah. Annisa mengaku bahwa ini merupakan kali pertamanya mempersentasikan film apalagi filmnya mempunyai unsur psikologis. “Rasanya luar biasa ya kak. Karena kita kan masih baru. Kita tidak tahu sebelumnya presentasi film itu kayak gimana. Apalagi filmnya punya unsur psikologis. Alhamdulillah semuanya lancar saja walaupun jika dibandingkan dengan yang lain presentasi kita tidak sehebat mereka gitu” kenang mahasiswi yang gemar menulis ini.

Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Tidak ada manusia yang terlalu baik dan tidak ada manusia yang terlalu buruk. Dibalik sebuah kelemahan, tentu ada sebuah kelebihan, dan tidak ada sebiji dzarrah pun sesuatu yang sia-sia. Tidak ada alasan bagi kita untuk menjauhkan diri dari kaum disabilitas, karena kita semua sama di sisi-Nya. Film sederhana ini memberikan kesan menarik bagi kita bahwa secara psikologis, kaum disabilitas mempunyai keinginan untuk ‘sama’ dengan yang lain tanpa dibedakan dalam sisi apapun. Di sinilah poin penting bahwa sebagai manusia yang tidak mempunyai daya tanpa izin-Nya,  kita harus senantiasa bersyukur atas setiap detik nafas yang  diberikan kepada kita.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin selalu mengajarkan kasih sayang kepada semua makluknya. Dukungan emosional termasuk dalam aspek dari dukungan sosial yang paling utama. Dukungan ini mencakup ungkapan empati, kasih sayang, kepedulian dan perhatian terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai, dan diperhatikan. Dukungan ini diantaranya memberikan perhatian atau afeksi dan bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Demikianlah islam menyerukan kepada umatnya untuk saling mengasihi satu sama lain seperti yang tertuang dalam QS. Al Balad ayat 17 yang artinya “dan Dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”. Tuhan mempunyai kasih sayang yang Maha Luas, jika Dia memberikan perintah kepada kita untuk senantiasa menyayangi sesama, lantas apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengharap kasih sayang-Nya? Semoga sedikit ilmu yang tertuang dalam film “Aku Rena” ini mampu membuat kita lebih dekat dengan-Nya. (Red. ms)

Reportase         : Wachidatul Zulfia

Editor                 : Faatihatul Ghaybiyyah, Fauza Nur Hidayah

Simpan

 

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: