Research Party dan Orang Hebat Didekatku

 Opini, Sorotan Kritis

Mohammad Mahpur; Saat memberikan materi pada event research party 2017

Sabtu Minggu Lalu, tepat di tanggal 16 sd 17 September 2017, saya ada di tengah-tengah Research Party yang diselenggarakan oleh Psychology Leaner Community (PLC) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Strategi menemukan makna

Apa arti orang hebat ketika ada di sekitar kita ? Tentu kebahagiaanlah yang pasti. Coba sekarang saja, beberapa orang yang merasa bahagia bertemu dengan orang-orang hebat, pasti berusaha mengambil pesawat  telepon genggam dan akan menyerobot kerumunan orang untuk foto bersama. Bukti foto akan menceritakan sudut pandang kita tentang keberadaan kita disamping orang itu karena sebuah inspirasi atau sebuah keinginan agar kita minimal bisa seperti orang tersebut.

Entah karena mereka tenar di suatu bidang, ahli di profesi tertentu dan barangkali kita telah mampu masuk dalam budaya orang-orang sukses. Atau kesempatan itu adalah ekspresi bahwa kita telah mampu membedakan diri kita dari orang-orang yang biasanya ada di lingkungan sebagaimana biasanya.   Pembedaan itu biasanya meningkatkan harga diri kita di depan publik. Kenyataannya dapat ditunjukkan banyak orang yang meminta foto dan kemudian mengunggahnya. Selain itu disertai dengan untaian kalimat yang menjadikan momen itu menjadi istimewa.

Lingkungan hidup kita membantu identifikasi diri kita. Sosok-sosok yang kita identifikasi dalam momentum tersebut akan menjadi suatu media setiap orang untuk melihat tingkat keterhubungannya dengan orang-orang tersebut yang mewakili jenis kelas tertentu dalam struktur sosial kehidupan ini. Oleh karena itu, orientasi diri yang menjadi pembenaran posisi sosial melalui orang-orang yang kita temui, menurut saya dapat menjadi pemantik semangat agar hidup yang kita rintis dapat mencapai impian, sebagaimana orang-orang yang menjadi figur di sekitar kita.

Namun demikian, jika semua orang-orang yang kita temukan di forum tersebut salah dimaknai, maka keberartian kehadiran orang tersebut dalam diri kita pun akan berimplikasi kontra-produktif bagi kita sendiri. Apalagi hanya terjebak kedalam keinginan yang tinggi dengan membuktikan bahwa kita adalah orang hebat karena mampu bersanding dan foto bersama dengan orang-orang tersebut sebagai figur sukses publik.

Nah, bagaimana agar kita tidak terjebak di situ dan pertemuan-pertemuan dengan orang hebat tersebut dapat memberikan kebahagiaan tersendiri, bukan harga yang mengunggulkan tentang posisi kita yang berbeda dengan orang lain. Kalau yang terakhir, waspadai kita akan terjebak pada keinginan tinggi tetapi tidak pernah tahu bagaimana memaknai arti dari pencapaian tersebut. Kekurangan akan terus mendikte tanpa ada pemaknaan atas buah prestasi.

Lalu bagaimana cara kita agar bisa memaknai secara lebih tepat momentum tersebut. Di sinilah saya akan berbagi cara memeroleh makna tersebut yang menurut saya akan menambah pengenalan saya sendiri terhadap apa yang menjadikan saya lebih bahagia dan semangat.

Zakiyah Mutiah dan PLC.  Saya menyaksikan  bagaima PLC dibangun di awal sebagai bayi peneliti, dan pegiat seni khusus di tingkatan mahasiswa. Ternyata PLC pun bisa dijadikan pemantik go international hanya dengan kemampuan bahasa Inggris yang sudah dimiliki sebagian besar anggotanya.  Kalau fakultas lain harus berjibaku dengan membuat Internasional Class Program untuk menjawab kebutuhan afirmasi internasional, di fakultas psikologi cukup terjawab dengan PLC. Hal ini tidak lain adalah kemampuan kita dalam mengorganisir aset sumberdaya yang ada. Tetapi, jika kita melihat aset itu tidak ada dan kita menciptakannya, alangkah beratnya. Tetapi dengan menemukan aset (sumberdaya), maka penghargaan terhadap melimpahnya sumberdaya itu bisa dikenali dan berarti secara pribadi atau kelembagaan, kami bisa mengenali manusia dengan lebih baik. Jadi, hubungan manusiawilah yang mampu menemukan potensi dan bergerak bersama-sama saling menyetarakan.

Hal penting lain yang saya sangat bahagia adalah, saya menemukan mahasiswa yang sudah tidak lagi menyoal keterbatasan itu dengan keluhan dan permintaan, tetapi mengatasi keterbatasan itu dengan saling bekerjasama.

Apakah teman-teman PLC merasakan seperti itu, saya tidak tahu. Tetapi, kalau teman-teman ingin mendapatkan umpan balik apa yang bermakna pada generasi, yah mestinya Anda orang yang paling bahagia karena mampu menundukkan tantangan dan menjebol satir keterbatasan. Di saat orang hanya rajin mengritik, justru Anda menembus kritik tersebut dan menyodorkan jawaban. Kebahagiaan lagi, apresiasi dari lintas fakultas menjadikan saya sangat bahagia bahwa PLC menginspirasi orang lain di atas harapan yang biasa-biasa saja.

Saya bahagia bahwa mindset yang tepat akan melahirkan perubahan, optimisme dan yang penting adalah inspirasi. Kata-kata ini tidak lagi hanya pemanis dari suara lembut sang motivator saja, tetapi momen research party menyodorkan fakta, bukan wicara saja. Artinya, apa yang kita lakukan tidak hanya untuk diri kita, tetapi memantik semangat dan harapan baru, bahkan perubahan baru bagi orang lain. Kemampuan melampaui keterbatasan memang jawaban nyata sebagai bukti pencapaian sukses. Pupuk agar ini menjadi mental hidup teman-teman.

Budi Waluyo dan Pradana Boy. Keduanya menyodorkan pengalaman penting, bahwa kesuksesan tidak melulu soal modal kesempurnaan, bahkan prestasi handal, tetapi keteguhan untuk menyingkirkan keterbatasan atau hambatan itu. Dari mereka, saya belajar bahwa pencapaian sukses harus dimulai dari sebuah kebangkitan, bahkan ada usaha-usaha yang orang lain tidak lakukan, demi untuk sebuah impian, maka mereka sanggup melampaui hambatan-hambatan tersebut.

Hal penting yang saya merasa bahagia adalah jawaban atas kegelisahan saya tentang pertanyaan, untuk apa kita terampil riset dan harus repot-repot presentasi di forum internasional ? Padahal biayanya tidak murah. Pada diri Pradana Boy, saya mulai sadar dan menemukan jawabannya. Core business periset, apalagi dengan tema perdamaian, apa toh yang bisa dijual ? Pradana Boy seorang duta perdamaian internasional. Penguasaan terhadap tema perdamaian dari riset dan kemampuan menulis, merupakan investasi yang dapat dijadikan nilai tawar personal pada dunia global. Boy mendapatkan fellowship dan perjalanan di berbagai belahan dunia untuk meriset dan promosi perdamaian.

Kekayaan ini yang saya temukan di sosok Boy. Bahwa ketrampilan riset adalah investasi dalam bentuk kepemilikan personal core business berupa peluang mendapat privillege perjalanan mengenal dan mengembangkan wawasan keilmuan ke publik dunia. Ini pun sebuah kemenangan. Anak Indonesia yang ilmu dan perannya dibutuhkan dunia. Jadi, bersemangatlah meneliti perdamaian, karena selalu ada personal core business ketika kita tahu peluangnya. Kebahagiaan yang saya rasakan adalah, kehadiran Boy seperti menolong saya, yakni menunjukkan pada mahasiswa bahwa tidak ada yang sia-sia terhadap proses riset dan keuntungannya dapat disaksikan nyata.

Kok begitu saja bahagia ? Begini, saat saya memotivasi mahasiswa, sementara saya tidak memiliki bukti atas diri saya karena mungkin juga bukan keberuntungan saya, ketika ada contoh nyata yang langsung maka apa yang saya sampaikan berkorelasi dengan kenyataan sehingga saya bukan dosen yang hanya “omonge sak dos, bayarane sak sen.”

Lain dengan sosok Budi Waluyo. Sejarah hidup dari orang miskin membangkitkan lompatan studinya. Di usia 27 sudah bergelar Ph. D. Dari tidak menyukai bahasa Inggris, mampu mendapatkan beasiswa hingga doktor, bahkan seorang pendiri Toefl online yang siswanya sudah ribuan. Anak muda yang menundukkan dunia. Kebangkitan adalah kuncinya dan juga barangkali keterdesakanlah yang turut menungkit kesadaran eksistensial Budi Waluyo. Maka, tidak mungkin kalau dia ingin sekolah tetapi harus mengeluarkan uang sendiri karena orang tuanya saja tidak mampu, maka dia bertekad harus mendapat beasiswa.

Dia juga menggenggam audiens siswa toelf ribuan. Menariknya, disajikan secara gratis. Dia prihatin, kalau anak-anak desa mau mendapat beasiswa sementara dia sulit membayar les-les bahasa Inggris, kapan mereka bisa kuliah ? Anak muda dengan jiwa kerelawanannya mampu menjadi solusi atas keterbatan kesempatan dan dia berikan kemampuan berbahasanya dengan Cuma-Cuma. Saya menjadi bersyukur bahwa jiwa kerelawanan tersebut saya belajari dari dekat di Budi Waluyo.

Charllote Blacburn. Tahukah apa yang menjadikan saya harus mensyukuri kebahagiaan ketika bersanding Charllote. Kerelawanan dia luar biasa. Dia hafal nilai-nilai utama Gusdurian, sementara saya tidak. Nilai-nilai ini seperti melampaui agama-agama. Selain itu, kebersamaan saya dengan dia telah mengubah sudut blok pikiran saya tentang bahasa inggris. Tidak perlu takut berbahasa Inggris. Kalau Anda salah mengucap, proses pemahamannya akan dicerna oleh lawan bicaramu. Kebenaran bahasa itu dimiliki oleh native. Jika bukan native, salah itu tidak masalah. Seorang native akan mencoba menyesuaikan diri dengan bahasa non-native. Belajar bahasa Inggris pun harus dikembangkan secara merdeka, maka disitulah kita semakin mudah menguasai bahasa. Dia menjadi role model berbahasa dan nilai dari kehidupan yang jauh lebih bisa saya cerna untuk menambah ketrampilan hidup saya sendiri.

Koentjoro. Jiwa kualitatif yang saya bangun selalu dapat resonansi pencerahan. Kualiatif menyentuh dimensi terdalam manusia. Obyektifitas kemanusiaan justru dapat dipahami jikalau seseorang semakin menguasai kualitatif. Melalui penguasaan kualitatif, praktik psikologi bukanlah sebuah kepalsuan karena kita dituntut melakukan pemahaman yang lebih obyektif tentang subyek. Berdasarkan cara inilah pendekatan kualitatif dalam psikologi lebih mampu memanusiakan manusia.

Saya kemudian terhenyak, Profesor yang terkenal dengan riset pelacuran, dari psikologi UGM ini berbisik pada salah satu dosen, “saya ini ingin mengajak mahasiswa-mahasiswa UGM seperti ini belum keturutan, tetapi di sini mahasiswanya telah menemukan semangat baru.” Baginya, research party seperti memberikan umpan balik bagi saya pribadi, kesan yang luar biasa dan apresiasi bahwa ternyata mahasiswa psikologi mampu melakukan sesuatu yang lebih baik dari mahasiswa lain. Ini begitu menggembirkan bagi saya dan patut disyukuri saya menjadi bagian dari momentum tersebut. Selain itu mahasiswa yang saya bimbing langsung mendapat pencerahan-pencerahan dari kehadiran beliau. Mahasiswa bertemu mbah guru kualitatif karena saya dulu ketika S2 dan S3 mengambil profesor Koentjoro sebagai pembimbing dan promotor.

Yunus Nasuha. Sosok ini, tiba-tiba hadir di samping saya sebagai juri presentasi. Kebetulan memang, meskipun saya sudah kenal beliau cukup lama. Yunus Nasuha adalah senior saya dan bidang keilmuannya di bisnis. Tetapi yang unik, Yunus tergabung di komunitas kompasiana. Dia terkejut melihat research party dari psikologi. Dia umpamakan jika kegiatan seperti ini biasanya versi universitas, tetapi di sini dilakukan oleh mahasiswa tanpa menggantungkan seluruh kegiatannya pada pembiayaan kampus.

“Seandainya saya tahu, kegiatan ini saya koneksikan dengan media kompasiana agar gaungnya menasional. Sayang sekali saya baru tahu sekarang ini. Tahun depan saya siap membantu jika berlanjut. Terutama di bidang publikasi nasional dan kerjasama media.” Apresiasi yang keluar dari Yunus memberikan kebahagiaan bahwa apa yang dilakukan mahasiswa memberikan inspirasi bagi dosen di luar psikologi.

Saya menemukan orang-orang hebat, terinspirasi, dan boleh dikata memberikan apresiasi adalah kebahagiaan bahwa perjuangan membangun budaya sukses dapat saya saksikan sendiri. Apa yang terjadi adalah proses budaya sukses yang berkemandirian.

Tentunya bangunan ini juga tidak lepas dari orang hebat di sekitar saya juga, yakni Yusuf Ratu Agung, Anwar Fuady dan Fathul Lubabin Nuqul. Mereka adalah teman yang paham jiwa mahasiwa.  Tentu semua sosok ini dilingkupi oleh panitia mahasiswa yang menggemaskan tetapi suara bisa Anda mampu Anda buktikan dengan benar-benar berkemandirian finansial.

Kami pun dakdikdur penuh ketegangan juga, tetapi bahwa optimisme dan solusi telah terparti dalam mental para panitia. Itu pun dibangun sudah cukup lama. Dan buahnya ada di research party.

Catatan panjang saya ini adalah apresiasi untuk PLC dan Panitia Research Party sebagai momen terkesan saya dan persaksian diri bahwa mahasiswa psikologi telah menemukan mahasiswa terbaik. Semoga ini juga menjadi surat saya untuk pejabat baru fakultas. Lebih khusus ke kolega saya Elok Halimatus Sakdiyah, Wakil Dekan III Fakultas Psikologi. Terima kasih telah menerima kegiatan mahasiswa yang dirintis jauh-jauh hari. Semoga terinspirasi dan menjadi hadiah hebat untuk peran baru Anda.

Penulis: Mohammad Mahpur. (Dosen fakultas psikologi bidang keahlian Psikologi Sosial dan Penelitian Kualitatif. Salah satu perintis http://kampusdesa.or.id)

Simpan

 

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: