Peran Ganda Wanita Karir dan Pandangan Egaliter di Indonesia

 Riset
Gambar Ilustrasi di unduh di google.co.id

Gambar Ilustrasi di unduh di google.co.id

PsychoNews Spesial Hari Ibu – Peringatan hari Ibu adalah sebuah penghargaan terhadap sosok Ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa sosok Ibu memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan seorang anak. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak untuk mengenal dunia, Ibu pula yang mengasuh dan memberikan segenap kasih sayangnya pada anak, mengingat budaya Indonesia yang cenderung menganut Patriarki, yang menisbatkan peran Ayah lebih pada sektor public. Ayah disimbolkan sebagai pemenuh kebutuhan ekonomi bagi keluarga, sehingga anak akan lebih banyak berinterkasi dengan Ibu yang dibatasi pada ranah domestik dengan tanggung jawab khusus untuk mengurus rumah tangga, mengasuh ana-anaknya.

Pada 22 Desember yang dikenal sebagai Hari Ibu oleh masyarakat Indonesia, redaksi psychoNews mengajak pembaca merenungi bahwa perkembangan peran wanita yang sudah berstatus Ibu selama beberapa dekade masih menuai banyak pro dan kontra dalam sistem keluarga di Indonesia. Isu hangat yang menjadi perdebatan ialah Ibu yang turut andil bekerja dalam sektor publik. Perdebatan itu, muncul karena timbulnya rasa khawatir pada sebagian masyarakat kita, mengingat peran Ibu yang sudah terkonstruk sebagai istri dan Ibu rumah tangga yang harus siap siaga dalam melayani kebutuhan keluarganya, utamanya anak. Penelitian yang dilakukan oleh Handayani, Afiyati & Adiyanti (2015) tentang “Studi Eksplorasi Makna Keseimbangan Kerja Keluarga pada Ibu Bekerja” seolah berusaha menjawab kekhawatiran masyarakat kita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek sebanyak 20 orang Ibu yang bekerja di Kota Semarang.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa, sebesar 55% informan menyatakan cukup kesulitan untuk membagi perhatian antara keluargan dan kerja, yang kemudian berdampak pada perasaan terbebani dalam dirinya. Hal ini terjadi pada Ibu yang masih memiliki anak balita. Sementara itu, semua informan yang mempunyai anak di atas lima tahun, sebesar 20% merasa cukup puas dengan keseimbangan kerja-keluarganya. Kemudian, secara kesuluruhan terdapat 45% informan yang merasa puas terhadap upayanya dalam menyeimbangkan antara kerja dan tanggung jawab mengurus keluarga. Menariknya, sekitar 25% dari Ibu bekerja yang mempunyai anak balita yang merasa puas dengan keseimbangan kerja keluarganya. Walaupun, hanya sedikit yang mampu mencapai keseimbangan kerja keluarga, akan tetapi jika dilihat dari respon 45% yang merasa cukup puas dengan keseimbangan kerja-keluarganya, lalu hanya 25% yang menunjukkan prosentasi ketidakpuasan maka, Ibu dengan anak usia balitapun masih memungkinkan untuk mencapai keseimbangan kerja keluarga (Handayani, Afiyati & Adiyanti, 2015).

Para Ibu yang bekerja dalam sektor publik memang membutuhkan perhatian khusus karena mereka dihadapkan pada masalah beban ganda. Seorang Ibu yang menempuh karir di luar rumah setelah kembali ke rumah mereka tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi peran untuk mengerjakan tugas rumah tangga masih dianggap tanggung jawab utama bagi perempuan. Padahal, dilansir dari CNN Indonesia banyak negara-negara maju di dunia sudah terbiasa dengan peran seorang Ibu yang juga bekerja selayaknya ayah. Anak-anak dari Ibu yang bekerja ketika sudah dewasa ternyata cenderung melepas peran tradisional, yaitu laki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai Ibu rumah tangga. Pola pikir mereka menjadi lebih terbuka. Bahkan terdapat temuan positif oleh Kathleen McGinn, profesor dari Universitas Harvard dimana dalam penelitiannya ia menyebutkan, anak di bawah usia 14 tahun dengan Ibu yang bekerja, baik paruh waktu maupun penuh waktu, akan tumbuh memegang pandangan gender yang lebih egaliter sebagai orang dewasa (Windratie, 2015).

Pandangan egaliter yang dimaknai anak dalam keluarga menjadikan anak memahami kesetaraan yang terbangun dalam bentuk saling memahami, saling melengkapi dan menyadari masing-masing memiliki peran yang harus dilaksanakan secara baik. Anak pun menyadari bahwa mengasuh anak bukan hanya tanggung jawab Ibu saja, seorang ayah bisa menggantikan sementara bila sang Ibu sedang sakit atau memiliki kesibukan yang tidak bisa ditinggal, misalnya.

Konsep egaliter juga dijelaskan dalam agama Islam, redaksi berusaha menguatkan ajaran Islam yang menyakini bahwa manusia, semuanya sederajat, dalam pengertian bahwa semua manusia memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihargai dan dihormati, baik yang menganut Islam maupun yang tidak. Perbedaan derajat hanya terletak pada tingkat Iman, Taqwa dan pemaknaan akan pengamalan pada agama masing. Sehingga, hal inilah yang menguatkan bahwa peran wanita yang berstatus Ibu berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar apalagi untuk mendapatkan pendidikan, terlebih Ibu adalah sarana pendidikan pertama bagi anak.

Sebuah survey yang dilakukan oleh badan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), persentase membaca untuk wanita umur 15-24 tahun berkisar 83,9 %, sementara untuk wanita 15-19 tahun berkisar 89,1 % dan umur 20-24 tahun yaitu 78,1 %. Untuk persentase yang tidak bisa membaca hanya sedikit rata-rata dari umur 15-24 tahun berkisar 1,9 %. Untuk persentase pria sendiri, rata-rata pria yang bisa membaca umur 15-24 yaitu 72 % dan yang tidak bisa membaca yaitu 4 %. Artinya, produktivitas membaca pada wanita lebih tinggi daripada pria. Tetapi, persentase ini belum dilihat dari segala aspek. Selain itu, persentase wanita dan pria dalam memperoleh pendidikan juga didominasi oleh wanita. Survey SDKI menjelaskan, wanita dengan usia 15-24 tahun memiliki persentase 13,6 % yang mendapatkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan 1 % bagi yang tidak bersekolah. Sementara, bagi pria, persentase yang mendapat pendidikan hingga perguruan tinggi yang berumur 15-24 tahun adalah 5,5 % dan yang tidak sekolah sekitar 1,7 %. Dari survey ini menandakan, bahwa wanita, khususnya Ibu memilki peranan yang penting bagi generasi penerus bangsa. Berikut ini merupakan data statistik yang menunjukkan perkembangan wanita karir di Indonesia yang dilakukan oleh Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).

Statistik Wanita Karir di Indonenesia

Ibu sebagai wanita yang berperan mendidik dan merawat generasi penerus bangsa, sudah selaknya memiliki pendidikan yang cukup agar bisa menciptakan para generasi yang cerdas dan kreatif demi kemajuan bangsa di masa mendatang. Hingga kini mungkin, masih banyak pihak menganggap bahwa laki-laki dan perempuan tidak setara karena keduanya dibedakan oleh peran yang dilakoni keduanya, laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan berada di sektor domestik, sehingga ketika berumah tangga mereka sebaiknya di rumah saja dan tidak usah bekerja terlepas dari potensi yang ia miliki. Sementara pihak yang lainnya (yang lebih dikenal sebagai feminis) beranggapan bahwa sejaitnya kedua jenis kelamin ini berada pada posisi yang setara, faktor budayalah yang kurang mendukung posisi wanita dalam mendapatkan hak-haknya sehingga para laki-laki terus didukung untuk mendapatkan haknya.

Kembali pada euforia merayakan hari Ibu di Indonesia, yang nampak jelas di permukaan melalui banyaknya postingan-postingan di sosial media. Seolah-olah semua orang tengah berlomba-lomba mengucapkan rasa terima kasihnya pada sang Ibu, baik lewat gambar bersama Ibu atau tulisan khusus yang ditujukan untuk sang Ibu tercinta di rumah. Padahal, memberikan penghargaan atas prestasi luar biasa sang Ibu harusnya dilakukan setiap hari bukan hanya karena tiba moment “mother’s day” yang sudah membudaya di masyarakat kita. Dibutuhkan langkah nyata dalam mengapresiasi prestasi para Ibu di Indonesia dalam mendidik generasi. Setidaknya, kita berharap berita-berita mengenai kekerasan pada kaum perempuan khususnya Ibu, digeser oleh berita-berita tentang keharmonisan dan prestasi keluarga. (Red.Ms)

Penulis          : Yansa Alif Mulya

Editor             : Wahyu Riska Elsa Pratiwi

Simpan


Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: