Perilaku Altruisme Melalui Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN)

 Riset
Gambar Ilustrasi di unduh di google.co.id

Gambar Ilustrasi di unduh di google.co.id

PsychoNews – Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Selalu ada kecenderungan untuk bersama orang lain dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan ini. Namun pada kenyataannya, tak banyak orang yang ingin bekerja sama sehingga lebih berorientasi pada kepentingan kelompok. Lebih sukar lagi ditemui orang yang mau menolong orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan bagi diri mereka sendiri, lebih banyak gambaran mengenai perilaku egoistik (mementingkan dirinya sendiri) dan anti sosial daripada gambaran mengenai kesukarelawanan. Tak heran, di tengah laju dunia yang semakin penuh dengan tantangan dan masalah yang selalu bertambah seiring berkembangnya zaman, menjadi relawan adalah sebuah pilihan yang minoritas.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang jatuh tepat pada tanggal 20 Desember nampaknya menjadi sebuah teguran untuk menggugah setiap individu agar beramai-ramai melakukan aktivitas yang berinisiatif tidak untuk kepentingan diri semata namun, memberikan manfaat bagi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang tidak bisa lepas dari sikap tolong-menolong. Setinggi apapun kemandirian individu, pada saat-saat tertentu pasti tetap akan membutuhkan orang lain. Dalam kajian psikologi, kita mengenal istilah Altruisme, yang merupakan kecenderungan tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Altruisme identik dengan tindakan yang ditujukan untuk menolong orang lain, didasari pada perasaan empati, keinginan untuk memberi sesuatu dan tidak ada kepentingan untuk mendapatkan imbalan tertentu (Santrock, 2003; Purwito, dkk. 2012,).

Adanya HKSN sejatinya merupakan cara bangsa Indonesia untuk mengucapkan rasa syukur dan penghormatan atas kekuatan dan upaya seluruh elemen masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang berkembang ataupun ancaman-ancaman dari pihak manapun yang menyerang bangsa Indonesia. HKSN adalah waktu untuk memperingati rasa solidaritas antar rakyat Indonesia, dan para pekerja sosial (relawan). Pada Juli 1949 di Yogyakarta, Kementerian Sosial (Kemensos) mengadakan penyuluhan sosial bagi tokoh-tokoh masyarakat dan kursus bimbingan sosial bagi calon relawan atau pekerja sosial, dengan harapan dapat menjadi mitra bagi pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Sebagai hari yang bersejarah, HKSN memiliki prinsip-prinsip agar membangkitkan rasa solidaritas masyarakat Indonesia, yaitu:

  1. Prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat. HKSN menyadari bahwa, keterlibatan aktif dari seluruh unsur masyarakat, antara lain TNI/POLRI, organisasi sosial/lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, media massa, pemuka masyarakat dan agama, relawan sosial dan masyarakat secara umum adalah penting untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat
  2. Prinsip Tri Daya, yaitu bahwa penyelenggaraan HKSN diharpkan dapat memberdayakan manusia, usaha, dan lingkungan sosial sebagai satu kesatuan.
  3. Prinsip berkelanjutan. Berdasarkan pada kedua prinsip diatas, ditegaskan kembali bahwa kegiatan-kegiatan dalam rangka Kesetiakawanan Sosial Nasional hendaknya dilaksanakan secara terus menerus sepanjang tahun (No day without solidarity).

Pada tahun 2015 Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memperingati HKSN di Kupang sembari meninjau lokasi pelaksanaan Bulan Bhakti Kesetiakawanan Sosial PH (BBKS), di salah satu rumah sakit atas bantuan Kementerian Sosial. Selain itu, Menteri meninjau donor darah di Lippo Kupang.

National NGO Study and Service Centre (NSSC) Research and Design dalam surveinya mengenai, sektor-sektor paling penting yang dikerjakan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia mendapati, bahwa LSM pada taraf lokal berfokus pada masalah Pemberdayaan Masyarakat, Hukum, dan HAM, Lingkungan, Pertanian dan Tata kelola Pemerintahan dan hanya sedikit yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan ekonomi. Sementara itu, LSM taraf nasional lebih menaruh perhatian pada masalah Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat, Ekonomi, Kesehatan, serta Hukum dan HAM.

Gambar Statistik Bentuk Kepedulian LSM terhadap Problem

Melihat data statistik tersebut sebenarnya, masyarakat Indonesia sudah mulai menunjukkan rasa peduli akan masalah lingkungan sosialnya terutama pada program pemberdayaan masyarakat. Mereka memiliki minat dan kemampuan yang lebih baik untuk bertindak, dan bersinergi melaksanakan kegiatan yang positif untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada melalui LSM, baik pada taraf lokal dan Nasional. Hal ini tercermin dari kepedulian LSM yang turut serta berpartisipasi untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan di Indonesia. Kemudian, rasa peduli sejatinya merupakan esensi utama dari perilaku altruism yang menunjukkan kemampuan individu dalam memahami perasaan dan situasi dari lingkungan yang orang lain alami. Semoga, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional terus bisa dirayakan pada setiap harinya dengan usaha menumbuhkan rasa solidaritas dan kokohnya empati pada segala bentuk masalah sosial yang terjadi disekitar kita untuk menebar kebermanfaatan pada sesama demi kemajuan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. (Red.Ms)

Penulis: Yansa Alif Mulya

Editor    : Wahyu Riska Elsa Pratiwi

Simpan

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: