Lelucon Verbal Tentang Seks, Masuk Dalam Kategori Pelecehan Seksual

 Suara Mahasiswa

apsifor2

Pose Bareng: Mahasiswi Psikologi UIN Maliki Foto Bareng Bersama Narasumber

PsychoNews – Satu lagi mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang kembali unjuk kebolehan pada event nasional. Kali ini giliran Dahniar, Ayas, Diana, dan Icha yang berkesempatan untuk mempresentasikan paper mereka dalam ajang call for paper yang diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Kamis lalu (12/11). “Kemaren aku, Diana, Ayas, sama Icha berangkat ke Yogya didampingi Pak Lubab sebagai dosen pembimbing kita,” kata Dahniar, salah satu peserta call for paper Apsifor.

Rangkaian kegiatan yang bertema “Kompetensi Psikologi Forensik: Teknik Eksplorasi Kasus Kekerasan Seksual dalam Pemeriksaan Psikologis terhadap Korban Anak atau Remaja dengan Teknik Let’s Talk” terdiri dari workshop dan call for paper. Kegiatan yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Grand Quality Resort ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, kriminolog, dosen, psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ), hingga jaksa, dan psikolog se-Indonesia. “Paginya kita ikutan workshop di UAD tentang Peran Psikologi Forensik dalam Meningkatkan Kesehatan Jiwa Masyarakat, lalu siangnya sekitar pukul dua siang kita berangkat ke Grand Quality Resort untuk presentasi paper kita,” ucap Dahniar.

Paper yang berjudul “Pelecehan Seksual, Apa, Siapa, dan Dimana: Sebuah Studi Pendahuluan tentang Pelaku, Korban, dan Tempat Pelecehan Seksual” berawal dari tugas kuliah Psikologi Sosial II, setahun silam. Mahasiswi semester lima ini direkomendasikan oleh salah satu dosen pengampu mata kuliah tersebut untuk melanjutkan penelitian mereka dan mengikutsertakannya pada event bergengsi ini. “Awalnya itu tugas Psikologi Sosial II yang diampu Pak Lubab semester kemarin. Lalu kita direkom sama beliau untuk nglanjutin penelitian itu karena ada event Psikologi Forensik. Penelitian kita kan pas banget judulnya, jadi kita ikutan. Kita ngirim abstrak, eh ternyata kita lolos dan kita presentasikan penelitian kita,” jelas Dahniar .

Dahniar menganggap bahwa pelecehan seksual bukan lagi hal sepele. Ia juga menjelaskan bahwa hipotesa penelitiannya menyebutkan bahwa lelucon verbal tentang seks pun sudah masuk dalam pelecehan seksual. “Kami merasa pelecehan seksual bukan lagi perkara sepele. Hipotesa kami bahwa lelucon verbal tentang seks pun sudah masuk dalam pelecehan seksual,” terangnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dahniar dan timnya berusaha membuktikan bahwa perilaku, korban, dan tempat yang menurut sebagian besar orang aman justru sangat memungkinkan terjadi pelecehan seksual. “Jadi hipotesa kami ingin membuktikan bahwa pelaku, korban dan tempat yang menurut semua orang aman justru malah akan terjadi pelecehan seksual,” tambahnya.

Presentasi yang berkonsep diskusi panel ini digawangi oleh Diana. “Konsep presentasinya diskusi panel, key speaker-nya Diana. Aku, Icha sama Ayas bantu pas sesi tanya jawab” tutur Dahniar. Ada kebanggan tersendiri ketika Dahniar dan timnya mempresentasikan hasil penelitian mereka. Namun tidak dapat dipungkiri disamping rasa banggaan, ada perasaan grogi ketika mempresentasikan paper mereka. “Ada kebanggan tersendiri dalam diri kami, tapi tidak dapat dipungkiri ada rasa grogi juga. Bagi kami, grogi itu wajar, karena waktu itu semua yang presentasi di ruangan hanya kami doang yang mahasiswa. Semuanya dosen, psikolog, dan psikolog rumah sakit jiwa.” jelas Dahniar.

Berada di tengah-tengah para pakar diberbagai bidangnya masing-masing, membuat Dahniar berharap bahwa suatu saat ia dapat menjadi salah satu pakar dalam bidang psikologi. “Di tengah-tengah pakar di bidangnya masing-masing, tidak ada harapan lain selain nantinya harus dan semoga menjadi seperti mereka,” harapnya. Sedangkan Icha, peserta call for paper Apsifor yang lain, berharap mahasiswa psikologi memiliki kompetensi pada bidang psikologi forensik guna membantu negara Indonesia dari permasalahan kriminal. “Kalau dari workshop yang kemarin secara umum bahas tentang psikologi forensik di ranah hukum maka harapannya semoga kedepannya kita punya kompetensi yang cukup dibidang itu jadi bisa bantu negara kita dari masalah-masalah seperti kriminal dan lain sebagainya yang membutuhkan ilmu psikologi forensik,” harapnya. Icha juga berharap agar bisa terus ikut berpartisipasi pada acara-acara seperti ini untuk menunjukkan eksistensi sebagai mahasiswa psikologi UIN Maliki Malang. “Dan semoga kedepannya bisa terus ikut berpartisipasi di acara super keren kayak gitu untuk nunjukin eksistensi kita sebagai mahasiswa psikologi UIN Malang,” tambahnya. (Red. Ms)

Reportase           : Setyani Alfinuha

Editor                    : Nur Jihan

Simpan Berita

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: