Pamerkan Poster: Mahasiswa Psikologi Wajib Belajar secara Mandiri

 Opini, Sorotan Kritis

Photo Poster Psikologi

Dinding ruang kelas Psikologi Abnormal dipadati berbagai poster karya mahasiswa (26/10). Sejak hari Senin hingga Kamis, mahasiswa psikologi semester V dalam matakuliah Psikologi Abnormal yang diampu oleh Tristiadi Ardi Ardani, M.Si, Psi memamerkan hasil asesmennya yang disajikan dalam bentuk poster. Ardi menjelaskan bahwa semua kelas yang diajar olehnya diminta untuk membuat laporan assement dan mempresentasikannya dalam bentuk poster. “Laporan asesmen perilaku abnormal itu tugas untuk UTS, lalu tugas individunya membuat poster tentang laporan assement. Presentasi poster dimulai minggu pertama setelah UTS, mulai Senin ini,” jelasnya.

Antusias mahasiswa dalam menjalankan tugas ini terlihat dari berbagai persiapan yang mereka lakukan. Winda misalnya, salah satu mahasiswa psikologi ini menjelaskan bahwa ia sudah mempersiapkan posternya satu minggu sebelum presentasi poster diselenggarakan. “Persiapan untuk membuat poster dan presentasi poster ini sendiri sejak satu minggu yang lalu. Kalau membuat laporan asesmennya sekitar satu bulan,” ungkapnya. Tidak jauh berbeda dengan Winda, Ijam, yang juga mempersiapkan posternya sekitar lima hingga enam hari yang lalu. “Aku nyiapin poster dan materi presentasi udah sejak lima enam hari yang lalu,” jelas Ijam.

Banyak persiapan yang mereka lakukan untuk mengikuti presentasi poster ini, mulai dari menentukan tema, mencari subjek, melakukan asesmen, membuat laporan, hingga membuat poster untuk dipresentasikan. “Jadi kita menentukan tema dulu, mencari subjek yang mengalami perilaku abnormal, terus nyari dan mempelajari materi atau teori-teori yang sekiranya berhubungan dengan perilaku abnormal tersebut, kemudian kita melakukan assesmen, membuat laporan asesmen hingga membuat poster dan mempresentasikannya di kelas,” papar Winda.

Belajar secara mandiri benar-benar dirasakan oleh beberapa mahasiswa. Mereka menjelaskan bahwa dalam mengerjakan tugas ini, mereka dituntut untuk belajar secara mandiri. Seperti yang diungkapkan oleh Ijam, “Kita dituntut untuk belajar secara mandiri. Nyari tema sendiri, mempelajari dan memahami tema yang kita ambil, melakukan asesmen, buat laporan, sampai presentasinya dilakukan secara individu,” katanya.

Salah satu kendala yang dialami oleh sebagian mahasiswa adalah dalam proses mendesain poster. Sebagian dari mereka belum mahir menggunakan aplikasi untuk mendesain poster. “Kalau kendalanya mungkin ya pas ndesain posternya itu, karena memang saya belum terlalu menguasai aplikasi untuk mendesain poster. Tapi Alhamdulillah setelah minta diajari temen anak TI (Teknologi Informatika) sekarang bisa, dan jadi posternya,” kata salah satu mahasiswa yang menempuh matakuliah ini.

Meski terdapat kendala, namun mahasiswa juga mengaku mendapat banyak hal positif dari tugas ini. Winda salah satunya, ia mengatakan bahwa dirinya mendapat beberapa hal positif, diantaranya; memacu untuk belajar secara mandiri, menumbuhkan kreativitas, dan bertanggung jawab. “Dengan kayak gini jadi motivasi buat belajar secara mandiri, menumbuhkan kreativitas juga buat bikin desain posternya, sama tanggung jawab karena ini tugas individu,” katanya. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa ia mendapat pemahaman yang lebih mendalam tentang salah satu perilaku abnormal yang diobservasi. “Selain itu, aku juga dapet pemahaman yang lebih tentang phobia, karena tema laporan yang aku buat phobia. Melalui tugas-tugas ini, aku jadi mendapat pemahaman yang lebih karena langsung praktik melakukan asesmen daripada sebatas membaca teori-teori yang ada di buku,” tambahnya.

Ijam pun berharap, tugas seperti ini akan tetap berlangsung karena menurutnya banyak hal positif yang didapat dari tugas tersebut. “Harapannya, tugas seperti ini tetap berlangsung karena banyak hal positif yang didapat. Hanya saja, waktu pengerjaan tugas bisa lebih lama agar kita dapat mengerjakan tugas lebih optimal,” harapnya. Selain itu, ia juga berharap presentasi poster dapat dilakukan di luar ruangan agar selain anggota kelas pun dapat mengetahui berbagai perilaku abnormal, jenis, gejala, dan penanganannya. “Selain itu ya harapannya presentasi posternya tidak hanya di kelas, tapi di luar kelas semacam pameran gitu. Supaya orang lain melihat dan mengetahui tentang perilaku abnormal yang meliputi jenis, gejala, dan penanganannya” tutupnya. (Red. Ms)

Penulis     : Setyani Alfinuha

Editor       : Sofia Musyarrafah

Simpan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: