Metamorfosa Perjalanan Hidup Perspektif Psikologi dan Agama

 Opini

 

berjalan-menapaki

Gambar Ilustrasi Perjalanan Hidup Manusia, di unduh di situs google.co.id image

Kenalilah makna sejati dalam dirimu sendiri dan engkau tidak akan binasa,

Akal budi adalah cakrawala dan mercusuar kebenaranmu,

Akal budi adalah sumber kehidupan,

Tuhan sudah memberimu pengetahuan maka dengan cahaya itu,

engkau tidak akan hanya menyembah-Nya,

tetapi engkau juga akan dapat mengenal dirimu sendiri,

dalam segala kelemahan dan kekuatan yang engkau miliki.

(Kahlil Gibran)

Metamorfosis dari asal kata methamorphoo (artinya: “saya berubah”) adalah akar dari kata ‘change’ atau ‘perubahan’ atau ‘pembaharuan’. Pengertian awal ‘methamorphoo’ merujuk pada perubahan sikap dan mental seseorang sesuai dengan kesinambungan perkembangannya secara fisik dan intelek ke arah pembaharuan hidup setiap hari guna mencapai eksistensi yang sempurna menurut naturnya sebagai manusia. Prinsipnya, perubahan sikap dan mental seseorang berbanding lurus dengan waktu dan pengalaman inteleknya (Alfrey, 2007).

Secara garis besar, pengertian metamorfosa mengacu pada kata ‘metamorfosis’ yang berarti perubahan atau pembaharuan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan diri dari jiwa yang ‘belum’ sepenuhnya mengenal (menyadari) dirinya sendiri menuju jiwa yang berusaha memahami diri sendiri dengan selalu berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Proses mengenal diri sendiri inilah yang saya sebut sebagai metamorfosa perjalanan hidup. Adanya sebuah metamorfosa, maka akan memunculkan sebuah perubahan dalam diri manusia.

Buku yang berjudul Kematian, Sebuah Risalah Tentang Eksistensi dan Ketiadaan (2011), di dalamnya Muhammad Damm menjelaskan bahwa usaha paling awal untuk memahami diri kita adalah mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: “apa itu manusia?” Pertanyaan “siapa aku?”—yang menyeruak sejak awal keberadaan manusia dan tak pernah tuntas terjawab—merupakan bentuk personal dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan ringkas itulah yang merangkum keseluruhan proyek kita sebagai manusia. Salah satu cara agar kesadaran diri kita bisa tumbuh adalah dengan bagaimana kita bisa memahami diri kita dengan baik, tentunya ketika kita sudah mengenali diri kita sendiri. Ajaran Socrates “kenalilah dirimu” serta hadits Nabi Muhammad SAW. yang artinya: “Barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia benar-benar mengenali Tuhannya”. Sepintas kalimat ‘mengenal diri sendiri’ adalah hal yang sangat sederhana. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya dengan cara yang tiba-tiba tanpa melalui sebuah proses perubahan (metamorfosa).

Baihaqi, dkk (2005) menyatakan kesadaran adalah kemampuan individu untuk memahami rangsang-rangsang yang timbul dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya, melalui pancaindera dan perhatiannya, sehingga individu tersebut mampu melakukan hubungan dan pembatasan yang baik dengan lingkungannya, kondisi sekelilingnya (waktu, tempat, dan keadaan secara umum) atau dengan dirinya sendiri (pikiran, perasaan, atau kebutuhan-kebutuhannya). Bandura (1986) secara garis besar menyatakan kesadaran (consciousness) adalah menjadi sadar (being aware) atas kejadian kejadian eksternal yang terjadi di sekitar individu, apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan. Kesadaran akan hidup (life consciousness) berkaitan dengan apa yang terajadi sekarang dan kini. Namun, individu juga dipengaruhi oleh kejadian-kejadian masa lalu, sehingga mereka bisa mengantisipasi, merencanakan, dan mengkhawatirkan hari esok.

Duval & Wicklund (dalam Brehm & Kessin, 1990) berpendapat bahwa kesadaran adalah pengarah internal individu mengenai apa yang dia pikir harus dilakukan. Teori selfawareness menyebutkan bahwa perhatian pada diri (kesadaran diri) membawa sensitifitas untuk menyatukan nilai-nilai dalam diri individu dan perilaku yang diambil. Self -awareness adalah fungsi kognitif yang paling tinggi. Hal ini sering disebut sebagai metakognitif, yaitu pengetahuan tentang apa saja yang diketahui. Konsep kesadaran diri dalam psikologi humanistik oleh May (dalam Koeswara, 1988) merujuk sebagai kapasitas yang membuat individu mampu menempatkan, mengamati dirinya, maupun membedakan dirinya dari orang lain, serta kapasitas yang memungkinkan individu mampu menempatkan diri dalam kesadaran masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang tanpa kehilangan dirinya. Ketidakmampuan individu untuk mengalami kontinuitas perasaan secara langsung erat kaitannya dengan hilangnya kesadaran diri atas tubuh sebagai suatu kesatuan diri (May dalam Koeswara, 1988).

Atkinson, dkk (1999) mengemukakan dua macam kesadaran, yaitu : kesadaran aktif yang menitikberatkan pada proses mental dalam membuat rencana, mengambil inisiatif, dan memonitor diri sehingga akan memunculkan regulasi diri; dan kesadaran pasif, seperti kesadaran sederhana dari pikiran, emosi, penginderaan, dan kesan. Buss (1995) dalam teori self-consciousness mengemukakan pula ada dua jenis kesadaran diri, yaitu: private self-consciousness, yakni kesadaran akan diri sendiri yang tidak bisa diamati secara langsung oleh orang lain, seperti bagaimana rasanya otot mengencang, perasan marah, cinta, ataupun perasaan spiritual; dan public self-consciousness, yakni kesadaran akan diri yang diamati pula oleh orang lain, seperti penampilan diri, bagaimana orang lain berpikir tentang diri, penghargaan terhadap orang lain, ataupun bagaimana individu berkomunikasi dengan orang lain.

Santrock (2003b) mengemukakan kesadaran diri adalah keadaan sadar terjaga atau pengetahuan mengenai peristiwa yang terjadi di luar dan di dalam dirinya, termasuk sadar akan pribadinya dan pemikiran mengenai pengalamannya. Individu yang memiliki kesadaran diri adalah sadar akan persepsinya, perasaannya, angan-angannya, ataupun sadar akan dunia di luar dirinya (Hist; Posner dalam Matlin, 1998). Solso (1998) mengungkapkan kesadaran diri sebagai keadaan sadar terjaga akan lingkungan di sekitarnya dan proses kognitif yang terjadi dalam dirinya, seperti: ingatan, pemikiran, emosi, dan reaksi fisiologisnya. Kesadaran diri adalah kesadaran pikiran yang berasal dari aliran persepsi terhadap sensasi, angan-angan, pemikiran, dan emosi yang terjadi secara terus-menerus (James dalam Santrock, 2003b).

Berdasarkan definisi-definisi kesadaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran adalah keadaan dimana individu mempunyai sebuah kepekaan baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Kepekaan itulah yang mendorong individu untuk melihat dunia luar dari sudut pandang berbeda yang membuat dirinya mempunyai motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Kemudian, penulis juga akan menyinggung tentang pandangan islam, dalam hal ini akan dikaitkan dengan istilah Hijrah yang memiliki makna beranjaknya manusia dari kemaksiatan hidup, baik hati, ucapan, perbuatan, dan sikap. Hanya Allah, menuju ke Allah, dan untuk Allah segala aspek kehidupan yang dilakukannya. Menerima dengan ikhlas semua ketentuan-Nya, baik itu karunia maupun musibah, dengan tetap bersyukur dan tawakkal ‘alallah (Arifah, 2015). Raqib al-Isfahani, pakar leksiografi Al-Quran berpendapat bahwa kata hijrah sebagai istilah biasanya mengacu kepada tiga pengertian, yaitu: 1) meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, 2) meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT, 3) mujahadah an-nafs atau menundukkan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.

Hijrah dapat disimpulkan sebagai perpindahan jiwa manusia dari masa ke masa, yakni dari masa jahiliyah menuju masa hakiki. Hijrah dalam bahasan kali ini adalah cara untuk mewujudkan seorang hamba menjadi muslim sejati yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Perubahan menuju muslim sejati membutuhkan sebuah kesadaran diri dalam jiwa seorang hamba. Jika sebuah kesadaran diri sudah melekat dalam jiwa, keinginan dalam hati untuk senantiasa ada dalam jalan-Nya dan untuk bermetamorfosa menjadi hamba yang lebih baik akan menjadi sebuah tujuan utama.

Allah Berfirman dalam Surah An-Najm ayat 39, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Usaha untuk menjadi muslim adalah salah satu bentuk metamorfosa perjalanan hidup yang lebih baik. Tidak semua orang bisa menyadari bahwa kehidupan di dunia ibarat air laut, yang ketika kita meminumnya, maka akan rasa haus akan semakin bertambah. Orang-orang yang belum memiliki kesadaran diri hanya bisa memikirkan kehidupan dunia yang fana, yang bahkan kita sendiri tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu menit bahkan satu detik yang akan datang. Sungguh, Maha Suci Allah atas Segala Sesuatu.

Sebuah metamorfosa (perubahan) tidak hanya ditunjukkan dari faktor eksternalnya saja, misalnya memakai hijab, memakai pakaian yang menutupi aurat, dan menjaga diri dari yang tidak halal. Namun juga bersumber dari faktor internal, yakni hati yang merupakan hal utama sumber metamorfosa dalam kehidupan. Jika dalam hati sudah ada sebuah niat yang hakiki untuk memperbaiki diri dan kesadaran akan perlunya perubahan menjadi lebih baik, maka semuanya pasti akan mengikuti. Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an tentang segumpal darah, yang apabila segumpal darah itu baik, maka seluruhnya akan menjadi baik. Segumpal darah itulah yang dinamakan hati.

Islam itu indah, tidak memberatkan bagi siapapun yang memeluknya. Saya di sini menekankan bahwa butuh kesadaran diri (self awareness) untuk bisa memahami agama dengan baik karena hal tersebut tidak cukup dengan membaca sebuah buku, kita pun perlu guru untuk menuntun kita. Akan ada hal yang kurang maksimal ketika kita hanya mengandalkan membaca tanpa meminta bantuan seorang guru sebagai penuntun. Hal ini dikarenakan pemahaman setiap orang berbeda dan pemahaman yang sempurna bisa didapat dari seorang guru yang telah ahli dalam bidangnya.

Keinginan untuk memahami agama hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah mempunyai kesadaran diri, sadar akan kebutuhan bahwa jiwanya memerlukan siraman rohani agar bisa menjadi muslim sejati. Betapa indahnya jika seorang muslim berlomba-lomba dalam kebaikan dan takwa, bukan berlomba-lomba menghunuskan api amarah kebencian yang saling memojokkan satu sama lain. Sebuah metamorfosa perjalanan hidup akan lebih lengkap dengan adanya hablum minallah dan hablum minannas. Keduanya mempunyai hubungan yang erat sebagai jalan menuju muslim sejati. Sebuah metamorfosa akan terus berproses hingga seorang hamba bisa menemukan kedamaian, ketenangan, dan keberkahan dalam hidup. Apalagi yang dicari seorang abdi di dunia yang fana ini selain Ridho-Nya. Jika sudah mendapatkan Ridho-Nya, maka semua akan mengalir dengan sendirinya dan menjadi mudah.

Keberhasilan sebuah metamorfosa tentunya dipengaruhi oleh usaha dan doa. Kewajiban kita sebagai manusia adalah berusaha dengan sebaik mungkin dan tentunya diiringi dengan berdoa serta bertawakal atas segala keputusan-Nya. Setidaknya ada sebuah kesempatan yang tidak hilang ketika kita sudah berusaha untuk mendapatkannya. Kerja keras tidak akan mengkhianati kita karena segala yang telah ditentukan Allah adalah yang terbaik. (Red. Ms)

Penulis :Faatihatul Ghaybiyyah

Editor    : Sofia Musyarrafah

Simpan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: