Cegah Post Power Syndrome dengan Aktivitas Positif Sejak Dini

 Psikologi Parenting, Psikologi Populer

Post Power Syndrom

Foto Ilustrasi Post Power Syndrom: Gambaran Beberapa Nenek Yang sedang Asik Menikmati Minum Bersama, di unduh dari situs google.co.id

PsychoNews – Kebanyakan dari kita tentu mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan di usia muda. Kemudian, kita tentu juga menginginkan hal tersebut dapat bertahan menggenapi kehidupan kita hingga tua dan berpulang ke Dzat Yang Maha Agung, Allah SWT. Pertanyaannya, sebenarnya apa itu yang disebut bahagia? Bagaimana ukuran bahagia pada diri manusia, khususnya pada mereka yang sudah genap berusia lanjut (usia dewasa akhir > 60 tahun)? Bahagia menurut hemat penulis dapat diartikan sebagai bentuk reaksi pada perasaan manusia yang positif terhadap apa yang dialami dalam diri dan kehidupannya. Nah, bahagia sejatinya adalah hak siapa saja dan menurut hemat penulis, bahagia adalah suatu yang wajib, di manapun dan dalam kondisi apapun.

Tahap perkembangan dewasa yang terdiri atas tiga bagian, yaitu: early adulthood, middle adulthood, dan, late adulthood. Individu usia dewasa akhir menjelang lansia memiliki banyak kebahagiaan yang terjadi dalam dirinya. Kebahagiaan itu tidak hanya soal materi (kekayaan sebagai hasil kerja keras masa mudanya) namun kebahagiaan yang lebih besar lagi, yaitu kebahagiaan non-material/sosial, seperti memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat sehingga merasa dihargai dan dicintai, kemudian memiliki keluarga yang bahagia dengan anak dan cucu yang tengah tumbuh.

Hal menarik pada individu yang berusia dewasa akhir menjelang lansia adalah munculnya perasaan-perasaan negatif dalam dirinya yang berakibat pada sulitnya mereka merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya di masa tua. Padahal, tidak ada masalah berat yang terjadi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Kenyataan ini dalam psikologi perkembangan dapat dikaji secara mendalam pada tema Post Power Syndrome. Secara umum sindrom ini bisa dikatakan sebagai masa krisis dan jika digolongkan hal ini disebut krisis perkembangan, yakni terjadi pada fase-fase tertentu dalam kehidupan kita sebagaimana dijelaskan di atas.

Post Power Syndrome dapat dipahami sebagai suatu gejala yang terjadi di mana si penderita berada pada kondisi terjebak dalam bayang-bayang kehebatan dan keberhasilan masa lalunya, sehingga ia cenderung sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang. Kalau sudah begini, lantas bagaimana bahagia bisa dinikmati? Padahal jabatan dan status sosial yang kita miliki di masa lalu tidaklah abadi, semuanya memiliki batas. Sebagaimana waktu kita berada di dunia ini.

Perlu dipahami bahwa sindrom ini berpotensi terjadi pada siapa saja entah itu pria atau wanita dan umumnya dialami pada individu yang berusia dewasa akhir menjelang lansia. Contoh sederhananya adalah para pejabat, artis, bos perusahaan, atau PNS yang kemudian telah selesai masa jabatannya dan kariernya karena sudah sampai waktunya.

Turner dan Helms (Supardi, 2002) menyebutkan penyebab terjadinya Post-Power Syndrome banyak diakibatkan akan kasus kehilangan pekerjaan, yaitu:

  1. Kehilangan harga diri, hilangnya jabatan menyebabkan hilangnya perasaan akan pengakuan diri.
  2. Kehilangan fungsi eksekutif, fungsi yang memberikan kebanggaan diri.
  3. Kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki arti dalam kelompok tertentu.
  4. Kehilangan orientasi kerja.
  5. Kehilangan sumber penghasilan tertentu dari jabatan terdahulu.

Apabila dalam keluarga kita entah itu kakek, nenek, atau mungkin ayah dan ibu kita sendiri ada yang mengalami Post-Power Syndrome perlu kita ketahui bagaimana cara penanganan gejala ini. Namun alangkah lebih baiknya bila kita melakukan tindakan preventif (pencegahan). Langkah preventif dapat dilakukan dengan mengembangkan pola hidup yang memberikan energi positif pada pemikiran seseorang, sehingga memiliki kecenderungan untuk tidak terpuruk dalam permasalahan. Hal ini juga bisa menjadi bahan referensi kita di kemudian hari saat kita sudah menuju usia lanjut.

Berikut hal-hal yang perlu kita coba untuk mencegah Post Power Syndrome ini: Pertama, sejak dini saat kita masih sibuk-sibuknya menjalankan aktivitas keseharian, kita dapat menemukan aktualisasi diri yang baru. Misalnya seorang rektor universitas yang telah habis masa jabatannya, tetapi bisa beraktualisasi diri dengan hobi menulis yang telah ia tekuni sejak ia aktif menjadi rektor. Maka, ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome kelak.

Kedua, bentengi diri dengan niatan aktivitas rohani. Bila segala aktivitas kita dilakukan guna mencapai kebahagiaan di dunia akhirat, maka segala apa yang sudah kita terima dan dapatkan, baik berupa jabatan, gaji, penghormatan, dan kebanggaan pada diri dalam kehidupan tentu tidak apa-apanya dengan kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah SWT di dunia dan akhirat nanti. Sehingga ketika sudah sampai pada masa pensiun, kita mengetahui bahwasannya segala aktivitas kita di masa lalu itu hanya sementara dan saatnya untuk meningkatkan aktivitas rohani kita.

Ketiga, habiskan waktu dengan keluarga, anak, dan cucu. Dulu pada saat masih memangku jabatan mungkin kesibukan membuat waktu kita akan keluarga menjadi berkurang drastis. Pada masa inilah kita memiliki waktu luang untuk bersama keluarga. Manfaatkanlah, karena keluarga adalah rahmat terbesar untuk kita.

Kemudian, terdapat terapi untuk meringankan gejala PPS dan untuk memperoleh kembali kesehatan jasmani dan rohani yang mengarah pada integritas struktur kepribadian. Menurut Kartini Kartono (2000) dalam bukunya Hygiene Mental disarankan melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Mau menerima kondisi baru, yaitu masa pensiun/punakarya dengan perasaan rela dan ikhlas, lega karena semua tugas pokok selaku manusia dan pejabat telah selesai. Maka kini tiba saatnya bagi pribadi untuk belajar menyesuaikan diri lebih baik lagi terhadap tuntutan kondisi baru yang masih penuh dengan tantangan.
  2. Membebaskan diri dari nafsu-nafsu dan ambisi yang ada di masa lalu. Membangun mimpi-mimpi baru di masa yang akan dihadapi dan apa yang didambakan dalam sisa hidup ini adalah tenang, damai, dan sejuk di hati.
  3. Sebaiknya tidak melakukan pembandingan pada siapa dan apapun juga, sebab usaha demikian itu akan sia-sia dan menjadikan hati sedih.

Semoga kita dapat mencegah Post Power Syndrome pada orang di sekitar kita dan pada diri kita sendiri kelak. (Red. Ms)

Penulis : Wahyu Riska Elsa Pratiwi

Editor    : Sofia Musyarrafah

Simpan Tulisan

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: