Praktikum Tes WAIS (Weschler Adult Intellegence Scale): Asah Keterampilan Mahasiswa Psikologi

 Suara Mahasiswa
Test Laboratorium Psikologi

Ilustrasi Mahasiwa Psikologi Melancarkan Psikotest di Laboratorium Psikologi UIN Maliki Malang

PsychoNews – Laboraturium Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang mulai dipadati mahasiswa psikologi semester empat sejak kemarin (27/04). Sejak hari Senin (27/04) hingga tiga minggu ke depan, mahasiswa semester empat akan melakukan praktikum tes WAIS (Wescheler Adult Intellegence Scale) dan ini menjadi praktikum pertama bagi mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Nisa, salah satu mahasiswi yang menjalani praktikum, “Iya, ini praktukum pertama. Kita praktikum tes WAIS, untuk mengukur kecerdasan dewasa, yang usianya di atas 30 tahun.”

Pelaksanaan tes WAIS dilakukan diluar jam kuliah berlangsung. Petugas laboraturium psikologi menyediakan banyak pilihan waktu dan hari, sehingga memudahkan mahasiswa untuk memilih waktu yang tepat dan tidak berbenturan dengan mata kuliah lain. Hari yang ditawarkan adalah hari Senin hingga Jumat dan setiap hari tersedia tiga pilihan waktu. Nafis, salah satu mahasiswi psikologi ini misalnya, ia mengaku menjalani praktikum hari Senin pagi. “Memang pihak laboraturium menyediakan banyak pilihan waktu dan hari. Harinya Senin sampai Jumat, kalau jamnya itu sehari ada tiga sesi. Jam 08.00 sampai jam 10.30, jam 10.30 sampai jam 13.00, sama jam 13.00 sampai 15.30. Aku ngambil jam pagi, jam 08.00 sampai jam 10.30 soalnya jam segitu gak ada kuliah,” ungkap gadis asli Malang ini.

Praktikum tes WAIS yang ditujukan untuk mengukur kecerdasan orang dewasa ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian mahasiswa, pasalnya terdapat beberapa mahasiswa yang kesulitan mencari testee (orang yang dites) karena berbagai hal. Haniam misalnya, yang awalnya kesulitan mencari testee hingga akhirnya mendapatkannya. “Rasanya bingung nyari testee. Mikir juga siapa ya enaknya yang jadi testeeku. Trus kepikiran ibu bersih-bersih ma’had. Akhirnya aku nanya ke ibunya, dan alhamdulillah beliau bersedia,” jelas gadis asli Blitar ini. Berbeda dengan Haniam, Nafis mengaku tidak kesulitan untuk mencari testee. “Alhamdulillah, saya tidak kesulitan mencari testee karena ibuku sendiri yang jadi testee. Hehe, ucap Nafis sambil tertawa.

Praktukum pertama bagi mahasiswa semester empat memiliki kesan tersendiri bagi beberapa mahasiswa. Meskipun mereka telah mempelajari alat tes WAIS tersebut ketika role play, tetap saja tidak sedikit mahasiswa yang merasa grogi saat menjalankan praktikum pertamanya. “Awalnya sih grogri banget, tapi pas masuk lab dan mulai ngetes, eh, malah santai. Apalagi testeeku rileks, jadi aku gak jadi grogi. Semoga aja hasil belajar tentang tes WAIS ini dapat bermanfaat dan mendapat nilai yang maksimal pada mata kuliah ini,” terang Haniam. Sementara Nafis mengaku berlatih menggunakan alat tes ketika role play sangat membantunya dalam praktikum meskipun rasa grogi tidak dapat lepas darinya. “Role play sangat membantu kita untuk belajar lebih intensif sebelum praktikum. Semakin sering berlatih, pasti akan semakin mahir menggunakan alat tes saat praktikum,” jelas Nafis.

Thorndike menjelaskan bahwa pada proses belajar, terdapat hukum latihan (law of exercase) dan hukum akibat (law of effect). Bagian dari law of exercase adalah law of use yang artinya, semakin sering dilatih akan semakin mampu menguasai materi dalam proses belajar. Seperti yang dilakukan oleh Nafis, ia selalu berlatih menguasai alat tes WAIS agar semakin terampil menggunakannya. Sedangkan law of use adalah hadiah akan berakibat memperkuat proses belajar, apabila sesuatu itu menyenangkan maka akan cenderung diulang dan sebaliknya. Hukum dalam proses belajar yang dijelaskan Thorndike berlaku bagi beberapa mahasiswa psikologi semester empat. Haniam misalnya, ia menjelaskan bahwa mendapat manfaat dan mendapat nilai yang maksimal pada mata kuliah ini menjadi hal yang menyenangkan menurutnya dan mendorongnya untuk lebih giat mempelajari alat tes WAIS.

Praktikum tes WAIS sebagai persyaratan lulus mata kuliah tes inteligensi ini mendapat respon yang positif. Nafis misalnya, ia menjelaskan bahwa dengan praktikum ia banyak hal, diantaranya belajar berkomunikasi dengan baik. “Dengan adanya praktikum ini, saya belajar banyak hal, belajar mencari testee, berkomunikasi dengan baik.” Nafis berharap praktikum seperti ini tetap dijalankan, karena dengan praktikum, ia merasa terbantu dan termotivasi untuk belajar. “Harapannya praktikum-praktikum seperti ini tetap berjalan, karena dari sini aku banyak belajar tentang alat tes yang memang merupakan ilmu terapan dan temotivasi untuk mempelajari alat tes.” (Red. Nj/Ms)

Reporter            :Setyani Alfinuha

Editor                :Nur Jihan

Simpan Berita

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: