Kuliah Cita-cita dan Tantangan: Jalan Membentuk Pribadi Muslim Sang Pemenang

Test Laboratorium Psikologi
Mahasiswa Psikologi Melaksanakan kuliah Praktikum Alat Test Psikologi

Kuliah, sebuah kata sarat persepsi dan penuh makna positif bagi yang benar-benar membutuhkannya. Memang, orang-orang yang membutuhkan kuliah akan memanfaatkan momen tersebut sebagai batu loncatan, jembatan untuk meraih impian, untuk menjalani hidup yang lebih baik. Bagi mereka, kuliah berarti sebuah investasi untuk masa depan. Sebuah bank tabungan hidup, yang apabila semakin banyak kita berinvestasi dalam kuliah, maka hal itu berarti semakin banyak tabungan untuk masa depan. Semakin banyak hal positif yang kita lakukan ketika kuliah, sebagai sarana pengembangan dri kita, maka semakin banyak peluang kita untuk menjadi seorang yang bermanfaat (dibutuhkan) dengan kualitas yang baik, dan semakin tinggi pula self esteem dan citra diri yang dibangun dan ternilai di mata orang lain.

Kuliah, adalah menuntut ilmu, belajar menemukan arti “Mahasiswa” yang sesungguhnya. –Maha- : terbesar, dan –siswa- : pelajar: seseorang yang menuntut ilmu. Secara etimologis, mahasiswa berarti sebutan bagi orang yang belajar di perguruan tinggi. Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, mantan presiden RI dalam orasi ilmiahnya yang pernah berlangsung di gedung rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang beberapa waktu lalu, mendefinisikan mahasiswa dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, mahasiswa adalah seseorang yang terus belajar, yang mempunyai wawasan yang luas untuk mencengkeram dunia, yang harus mampu berpikir dengan jernih, berpikir kreatif, dan berpikir progresif, untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“… Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah:11)

Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa sesungguhnya Allah pun telah menjanjikan kepada kita pahala dan kedudukan beberapa derajat jika kita beriman dan memiliki ilmu pengetahuan yang tidak sisa-sia. Karena ilmu begitu mahal nilainya. Dan karena itu, para pemimpin dunia yang baik hendaknya adalah orang-orang yang berilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu yang mereka miliki, mereka bisa menggenggam dunia dan membawanya menjadi lebih baik untuk menjadi jalan meraih akhiratnya. Karena pada hakikatnya pula, dunia hanyalah sebagai tempat persinggahan sesaat sebagai jalan menuju akhirat untuk bertemu kembali dengan Sang Pencipta.

Orang-orang yang menjadikan kuliah menjadi sebuah kebutuhan, dalam hal ini bukan berarti hanya belajar di perguruan tinggi saja, tapi juga dalam kehidupan sebenarnya, akan memiliki ambisi dan motivasi yang kuat demi meraih cita-citanya. Hidupnya bersemangat, tidak pantang menyerah, punya pemikiran yang sistematis atas tindakan yang dilakukan. Bahkan, kita bisa membaca karakter mahasiswa seperti ini hanya dari postur tubuh dan cara berjalannya. Karakter-karakter seperti ini adalah ciri-ciri karakter seorang pemenang. Kira-kira, apakah kita sudah memiliki karakter seperti ini?

Di sisi yang lain, ada pula orang-orang yang tidak menjadikan kuliah sebagai suatu kebutuhan, bahkan menganggapnya hanya sebagai sebuah permainan. Orang-orang yang tak ingin belajar lebih, yang hanya memaknai -mahasiswa- dengan: datang ke kelas-duduk manis-mendengarkan dosen-lalu pulang. Orang-orang yang hanya ingin menjadi biasa-biasa saja, yang tanpa sadar menghabiskan uang orang tua saja dan menyusahkannya. Orang-orang tipe ini, biasanya adalah orang-orang yang tak punya semangat hidup, tak punya tujuan, yang mungkin tak bisa menjawab jika dihadapkan pada sebuah pertanyaaan “untuk apa kita berilmu pengetahuan?”. Orang-orang seperti ini bagaikan pepatah ‘hidup segan, mati pun tak mau’. Kita pun bisa membaca karakter orang-orang tipe ini dari postur tubuh dan cara berjalannya, bahkan dari sorot matanya.

Jika kita mau berpikir lebih jauh, tentulah kita memilih untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter seorang pemenang. Yang mau bersusah-susah dahulu batu kemudian menjadi pemenang, yang mau jungkir balik dahulu demi orang-orang yang kita sayangi, baru kemudian bersenang-senang. Namun pada kenyataannya, disadari atau tidak, mayoritas diantara kita lebih cenderung untuk memilih hidup dalam zona nyaman. Contohnya, terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan, bermalas-malasan, suka menunda waktu dan menghabiskannya untuk suatu hal yang tidak bermanfaat. Kalau sudah demikian, bukan lagi karakter seorang pemenang yang kita dapatkan, tapi bisa jadi ‘karakter pecundang’ yang melekat dalam diri kita. Apalagi jika ciri-ciri tersebut sudah menjadi candu yang sulit disembuhkan dalam diri kita.

Sebagai seorang muslim sejati, kita harus selalu waspada dengan keadaan tersebut, karena zona nyaman bisa membuat mimpi kita semakin jauh untuk dicapai, membuat tekad kita semakin kendur, usia kita semakin tua dengan waktu yang habis sia-sia, membuat langkah kita semakin mundur, cahaya yang semakin redup, dan akhirnya, apa yang terjadi? Tinggal penyesalan dan batu nisan kita yang tertancap di pemakaman kehidupan, dalam kegelapan.

Ustad Sholikhin Abu Izzuddin, pengarang buku best seller “The Way to Win”, dalam sebuah seminarnya pernah berkata bahwa sesungguhnya, orang yang patut dikasihani bukanlah orang miskin yang masih bisa mencari makan dengan caranya, bukanlah orang yang lemah dan lumpuh atau yang memiliki keterbatasan fisik dalam meraih cita-citanya, akan tetapi, orang yang patut dikasihani adalah orang yang telah mati dalam hidupnya, bukan mati karena nyawanya yang meninggalkan dunia, tapi orang yang mati harapan dan cita-citanya, orang yang sudah tidak punya tujuan hidup, sehingga tidak tahu hidupnya untuk apa dan mau kemana.

Nah sahabat, dari pesan tersebut, kita juga dapat menilai, ternyata seorang pemimpi yang punya tujuan hidup dengan memvisualisasikan dan merealisasikannya dengan baik akan lebih memiliki nilai yang positif. Hendaknya, kita segera sadar dan bangkit dari tidur panjang kita. Tanpa kita sadari, kita sudah terlalu lama tertidur. Terlalu lama berada dalam zona nyaman, dan tidak melihat bahwa negara kita sedang sangat membutuhkan kita untuk berubah. Mari kita segera berbenah diri, memulai memperbaiki diri biarpun dari hal yang terkecil saja, untuk perubahan negara kita, agar mejadi negara yang menang karena pemuda-pemudanya memiliki karakter seorang pemenang. Bulatkan tekad kita untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agar bisa menjadi kebahagiaan dan kebanggaan bagi orang-orang yang kita sayangi.

Penulis: Queen Rahmah RZ

>>Simpan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan