Aktivis Kampus dan Mahasiswa Hari ini…?

Psikologi Aktivis

“Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat

mereka yang merugikan pemerintah”  (Soe Hok Gie)

Mahasiswa hari ini ada 2 tipe: kalau tidak menjadi Aktivis politik kampus berarti dia Aktivis sosial media. Aktivis kampus tugasnya teriak-teriak, demo-demo, diskusi, sesekali modusin kader muda. Aktivis sosial media tugasnya mengeluh masalah kampus, modusin maba, nongkrong dan semua dilakukan melibatkan dunia maya.

Mahasiswa hari ini yang mengaku Aktivis politik kampus, bakal turun ke jalan dan protes kebijakan pemerintah dengan embel-embel membela kepentingan rakyat. Mencap bahwa presiden adalah boneka partai, seperti suara SBY adalah suara demokrat dan suara Jokowi adalah suara PDI-P, ataukah suara anggota dewan kader Gerindra, Golkar dkk adalah suara KMP (Koalisi Merah Putih) dan suara anggota dewan kader PDI-P, Nasdem dkk adalah suara KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Mungkin begitulah mahasiswa Aktivis menyimpulkan pemerintah.

Sedangkan mereka mahasiswa Aktivis sosial media bakal menikmati apapun yang terjadi dengan keputusan rapat dewan. Bagi mereka suara kicauan twitter adalah suara Tuhan, menang Get Rich simbol kemenangan rakyat. Asal jaringan lancar dan smartphone tidak lowbet untuk pamer di Path, kepentingannya sebagai rakyat sudah terpenuhi. Kencan, main game, nongkrong atau nonton film apapun jenisnya adalah cara mahasiswa sosial media menikmati indahnya kemerdekaan Indonesia.

Aku mah apa atuh? Saya juga bingung masuk golongan mana. Sebagai seorang lelaki saya begitu takut orasi dengan turun ke jalan tapi sayapun tidak menjadikan sosial media sebagai cara menikmati kemerdekaan. Saya hanya mahasiswa biasa yang memperjuangkan sesuatu hal yang layak dirubah dari kampus dengan cara saya: Menulis. Saya tidak membenci organisasi politik kampus yang membentuk kadernya ahli orasi dengan nalar kritis. Tidak. Tidak pula membenci mahasiswa yang menuhankan jaringan internet. Tidak.

Saya hanya mempunyai kegelisahan terhadap kehidupan mahasiswa hari ini. Entah itu Aktivis politik kampus ataupun Aktivis sosial media. Baik, saya akan mulai dari kegelisahan tentang mahasiswa Aktivis sosial media. Saya tidak menyalahkan siapapun mahasiswa yang aktif bersosial media, keuntungan hidup di era-modern memang seperti ini. Bebas menyampaikan pendapat, tapi bisakah kita menggunakannya fasilitas yang ada untuk hal yang benar-benar lebih berguna untuk orang lain.

Saya termasuk mahasiswa yang malas turun ke jalan untuk orasi, meski saya banyak membaca buku-buku “kiri”. Saya lebih suka menyampaikan aspirasi lewat sosial media, blog, ngopi bersama teman-teman kampus, ataupun saya sering menyampaikan kegelisahan dalam candaan. Menurut saya, menyampaikan hal serius lewat cara ringan adalah sesuatu yang lebih elegan dari pada capek-capek orasi dijalanan tanpa kejelasan hasil. Jadi, fasilitas kebebasan berpendapat kita bisa disalurkan lewat cara Funny. Saya belajar cara ini dari stand up comedy di Amerika Serikat menggunakan cara menyampaikan kegelisahan diselingi candaan untuk mengkritik.

Besar harapan saya agar para mahasiswa Aktivis sosial media bisa lebih mempergunakan segala daya upaya untuk hal yang lebih berguna dan memberi inspirasi bagi masyarakat dunia maya. Menurut saya, orasi di jalan adalah cara kuno untuk menyampaikan sikap kritis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Apa untungnya? Toh belum tentu segala aspirasi yang kita mau didengarkan, kalaupun didengarkan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Maka alangkah lebih baiknya kita menyuarakan suara kepada orang yang mau mendengarkan. Saya yakin banyak orang yang akan membaca dan memperhatikan suara kita lewat sosial media.

Saya salut adanya tokoh-tokoh pemuda, sebagian sudah “veteran” pemuda dan saya tidak tahu apakah sisanya mahasiswa apa bukan, sudah menyampaikan hal serius dengan cara ringan menggunakan sosial media. Seperti gerakan hastag kritik terhadap SBY karena kasus RUU PILKADA, ataupun yang terbaru Haji Lulung. Sikap inilah menurut saya perlu lebih sering dilakukan para mahasiswa sosial media.

Mari kita beranjak dari kehidupan mahasiswa Aktivis sosial media menuju mahasiswa Aktivis politik kampus. Pada suatu ketika seorang teman mengeluhkan “Mengapa pemerintahan negara kita begitu sulit maju?”. Saya diam dan hanya senyum-senyum sendiri. Pertanyaan “Mengapa pemerintahan negara kita kampret?” Jawabannya adalah karena kehidupan politik kampus juga sama kampretnya.

Saya menjawab dengan memberikan pertanyaan kembali kepada kawan tadi, yang juga begitu getol di sebuah organisasi ekstra pergerakan mahasiswa, (izinkan saya bertanya kepada kalian juga yang membaca tulisan ini atau yang menjadi ketua ataupun pejabat di badan eksekutif/legislatif mahasiswa), Pertanyaan ini tidak usah di jawab secara verbal, cukup menjadi intropeksi bersama, karena ini adalah pekerjaan rumah kita bersama sebagai mahasiswa. Pertanyaan saya adalah “Mayoritas mana yang anda pilih untuk menjabat berdasarkan kompeten atau berdasarkan kesamaan warna bendera pergerakan?”, lalu “Apakah yang anda pilih adalah mereka kesamaan warna bendera? Jika iya? Kader seperti apa? Yang mau bersifat netral ataukah yang banyak memberikan keuntungan untuk bendera kita?”. Saya rasa kita tahu jawabannya.

Kita, sebagai mahasiswa Aktivis politik kampus, harus berpikir sebelum mengatakan suara SBY adalah suara demokrat dan suara Jokowi adalah suara PDI-P, apakah selama ini kita di panggung politik kampus tidak menyuarakan dan mendukung kepentingan bendera pergerakan kita? Saya tidak menyalahkan siapapun, sekali lagi ini adalah pekerjaan rumah kita bersama sebagai mahasiswa. Ini pelajaran sebelum mulai berteriak pemerintahan negara busuk, kita harus tahu diri terhadap kondisi pemeritahan mahasiswa dalam kampus. Kita sama saja, sama bejatnya.

Saya jadi teringat ucapan Soe Hok Gie, aktivis 1966 itu pernah berkata “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”.

Mahasiswa Aktivis hari ini harus berbernah, jika tidak pemerintahan negara kita 1000 tahun lagi akan sama saja. Sungguh Aktivis politik kampus harus intropeksi diri karena tidak jarang yang menjadi pengambil kebijakan negara berasal dari mereka. Amien Rais, Adian Napitupulu, Budiman Sudjatmoko dan lain-lain adalah mantan Aktivis kampus. Awal saya setuju mereka ada di perlemen, perlemen butuh orang “baik” seperti mereka. Namun pada akhirnya mengecewakan.

Mahasiswa bukanlah gelar kebangsawanan, mereka terlahir dari berbagai lapisan masyarakat. Bekerja untuk mencari ilmu, mengaplikasikannya dalam keseharian, lalu mengawal langkah negara ini demi tercapai 3 impian: tanah air tanpa penindasan, bangsa yang gandrung akan keadilan dan terakhir berbahasa tanpa ada kebohongan. Mahasiswa bukan anak kecil lagi, mereka sudah dewasa untuk bebas memilih cara perjuangan untuk mencapai 3 impian bersama.

Mau menjadi Aktivis sosial media ataukah Aktivis politik kampus. Mahasiswa Aktivis sosial media bisa mulai bergerak dengan media-media dunia maya, media-media yang penuh kebebasan berpendapat, tetapi ingat juga harus dengan tanggung jawab. Mahasiswa Aktivis kampus silahkan berbenah lalu bangkit bersama, asal mahasiswa dan peduli bangsa, tanpa melihat golongan lawan atau kawan, ajak orasi bersama. Mahasiswa hari ini adalah ular yang berbisa, tidak seperti orde baru hanya menjadi ular berdesis tanpa bisa, maka gunakan bisa dengan penuh tanggung jawab. Orasilah dengan penuh rasa tanggung jawab secara bersama-sama tanpa melihat asal warna.

Penulis: Saiful Haq

>>Simpan Tulisan

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan