Psycholovely: Memaknai Kasih Sayang Perspektif Psikologi Islam

 Psikologi Populer

Pycholovely

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS.Ar-Rum:21).

Bulan februari bagi sebagian remaja kita, katanya merupakan bulan yang spesial. Menurut mereka bulan ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang dan berbagi dengan orang-orang yang mereka sayangi. Pada bulan ini, tepatnya tanggal 14 Februari sebagian dari kita ada yang merayakannya, meskipun sebagian besar umat islam melarang untuk merayakannya karena memperingati hari kasih sayang bukan merupakan ajaran yang bersumber dari syari’at islam.

Terlepas itu kontroversi yang beredar di masyarakat, dalam tulisan kali ini tidak akan membahas tentang apa itu hari kasih sayang, serta hukum-hukumnya. Tulisan ini akan mencoba kembali untuk memaknai kasih sayang yang sesungguhnya dalam perspektif psikologi dan keislaman. Sehingga diharapkan kita bisa kembali untuk memaknai bagaimana sesungguhnya kasih sayang dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih sayang merupakan kebutuhan dasar dari setiap manusia, tanpa kasih sayang manusia tidak akan pernah ada dimuka bumi ini. Kita lahir didunia ini karena adanya kasih sayang, bahkan ketika kita matipun masih akan selalu mendapatkan kasih sayang. Seorang Tokoh Psikologi Abraham Maslow dalam teori Hierarki-nya mengatakan bahwa terdapat 5 kebutuhan dasar manusia, kebutuhan dasar manusia tersebut meliputi: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.

Adapun menurut islam kasih sayang banyak sekali disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadist. Diantaranya adalah surat ar-Rum ayat 21 sebagai berikut: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS.Ar-Rum:21).

Dalam hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori juga disebutkan,“ Sesungguhnya kasih sayang itu cabang (penghubung) kepada Allah SWT. Barang siapa yang menyambungnya,maka Allah akan menyambung (kasih sayang-Nya) dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutus (kasih sayang-Nya) dengannya.” (HR. Bukhori).

Dari hadist dan ayat tersebut diatas dapat kita fahami bahwa Allah menciptakan kasih sayang sebagai kebutuhan kita. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk selalu berkomunikasi denganNya. Sehingga apapun bentuk kasih sayang yang kita berikan baik terhadap sesama manusia maupun lingkungan akan selalu tertuju dan berhubungan denganNya.

Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 24 menyebutkan tentang bagaimana tingkatan-tingkatan kasih sayang dalam Islam. Yaitu: ”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai, adalah lebih utama daripada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah:24

Dalam konsep islam terdapat tiga tingkatan kasih sayang yaitu: pertama, Kasih sayang terhadap Allah swt. Kedua, Kasih sayang terhadap Rosulullah. Ketiga, Kasih sayang terhadap sesama manusia. Kasih sayang terhadap Allah dan Rosulnya dapat diwujudkan dengan selalu mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan Allah dan Rosulnya, sehingga kita semua akan mendapatkan kasih sayang-Nya baik untuk saat ini ketika masih hidup di Dunia maupun kelak ketika kita dihidupkan kembali di Akherat.

Lalu bagaimana konsep kasih sayang sesama manusia? Konsep kasih sayang terhadap manusia bisa diwujudkan dengan banyak cara. Konsep kasih sayang sekarang sudah banyak mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga mungkin perlu memurnikan kembali akan makna kasih sayang tersebut.

Dalam ajaran islam sering kita mendengar Sakinah mawaddah wa rahmah (QS. Ar-Ruum : 21).), dari kalimat itulah kita bisa memurnikan kembali hakikat dan makna dari makna kasih sayang. Pertama, Sakinah berasal dari sakana yang memiliki arti tenang. Sementara Ibnu Katsir mengartikan Sakinah sebagai berikut:

Lita’ tafu: Saling mengikat hati. Faktor ikatan hati yang dimaksudkan adalah keimanan, bukan harta, kedudukan, apalagi bentuk fisik. Sehingga bisa saling mengingatkan dalam hal kebaikan serta saling mensehati untuk bersabar ketika menghadapi suatu permasalahan.

Tamilu ‘Ilaiha : Condong kepada orang yang dicintai dan disayangi. Maksudnya adalah condong pikiran, perasaan, tangggung jawab.

Tadma’inubiha : Merasa tenang dengan orang yang dicintai dan disayangi.

Kedua kata mawaddah, mawaddah mengandung pengertian filosofis yaitu adanya dorongan batin yang kuat dalam diri orang yang menyayangi untuk senantiasa berharap dan berusaha menghindarkan orang yang dicintainya dari segala hal yang buruk, dibenci dan menyakitinya. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kehendak jiwa dari kehendak buruk.

Ketiga, “Rahmah” yaitu jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta Rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya.

Oleh karena itu dalam al Qur’an, kerabat disebut al-arham, atau dzawi al- arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari rahim ibu,. Sejak masih berada dalam kandungan anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu melakukan silaturrahim, atau silaturrahmi yang artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin selama berada di dunia hingga kelak di akhirat.

Dari ketiga pengertian tersebut dapat kita fahami bahwa seseorang yang dicintai dan disayangi akan mendapatkan kenyamanan baik ada maupun tidak berada disamping orang yang disayanginya. Karena pada dasarnya menyayangi bukanlah mengekang dan membatasi apa yang dilakukan oleh orang yang kita sayangi. Hal yang demikian ini tentunya tidak bisa diterima karena alasan kasih sayang. Kasih sayang dapat diwujudkan dengan memberikan dukungan, motivasi serta pengertian-pengertian untuk mendukung apa yang dilakukan oleh orang yang kita sayangi demi kebaikannya.

Lalu apakah hanya setiap satu tahun sekali kasih sayang diperingati? kita sebagai ummat Islam tentunya mengerti dan memahami setiap hari adalah kasih sayang, dan setiap hari pulalah kita memperingatinya. Kita minimal 5 kali dalam setiap harinya memperingati hari kasih sayang, terutama terhadap sang Maha Khaliq, bahkan mungkin bagi mereka yang sudah mencapai tingkat tertentu setiap hari dan setiap apa yang mereka lakukan adalah manifestasi dari kasih sayang yang telah Allah berikan kepada ummat-Nya.

Ucapan terimaksih dan memuji terhadap Allah adalah salah satu bentuk rasa cinta dan kasih sayang kita terhadap-Nya. Namun alangkah lebih baik lagi apabila diaplikasikan dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan nyata dalam aktifitas sehari-hari. Sehingga kita pada akhirnya akan mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya baik untuk saat ini ketika kita hidup di Dunia maupun kelak di Akherat nanti.

Penulis: Anwar Fuady, MA

>>Simpan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: