Di Indonesia Terapi EMDR Efektif Mengatasi Gangguan Post Traumatic Stress Disorder

 Psikologi Populer

Terapi EMDR

EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) merupakan metode psychoterapi yang lebih efektif dalam mengatasi gangguan-gangguan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Di Indonesia telah resmi di buka pada tahun 2008. Metode ini di temukan oleh Francine Shapiro pada tahun 1987 ketika dia berjalan di sebuah taman tiba-tiba ingat pada suatu peristiwa negatif yang dialaminya dan tanpa sengaja sambil menggerakkan bola matanya ke kiri dan kekanan secara bergantian. Selang beberapa waktu ia merasakan bahwa beban yang dirasakannya secara berangsur-angsur semakin berkurang. Pada akhirnya ingatan negatif tersebut berubah memperoleh nilai positif. Saphiro kemudian mengembangkan EMDR berdasarkan pengalaman tersebut.

Eye Movement Desensilization and Reprocessing (EMDR) menggunakan dua sisi atau stimulisasi bilateral untuk memproses ingatan disfungsional, yang kemudian menyebabkan ingatan tersebut disimpan dengan fungsional dan produktif (Lipke, dkk dalam Howard & Cox, 2006, h.303). Stimulus bilateral juga bertujuan untuk desensiatisasi ingatan, perasaan dan keyakinan yang menyedihkan dan untuk meningkatkan penggantian ingatan keyakinan negatif dan positif. Gerakan mata (arah kanan dan kiri bergantian) biasanya terdiri dari stimulus bilateral, sedangkan bentuk yang lainnya adalah ketukan bergantian tangan kanan dan kiri atau mendengarkan bunyi/suara kuping kanan dan kiri secara bergantian dengan membayangkan permasalahan atau kesulitan dalam memikirkan materi yang menekan ketika berkonsentrasi mengikuti jari terapis yang bergerak cepat dengan mata (Rubin dkk, 2001 h. 436). Oleh sebab itu tritment ini berfokus pada pada komponen persepsi dari ingatan (afektif, kognitif, somatis) yang bertujuan untuk menyelesaikan pengaksesan dan pemrosesan dari peristiwa yang menganggu dan memfasilitasi proses pembelajaran yang menyertai (Symons, 2006). Pada penelitian yang dilakukan oleh Wilson dkk (1996) mengindikasikan bahwa manusia memiliki mekanisme fisiologis internal yang mengaktivasi kesembuhan aktivasi saat di akses dan diatur dengan sesuai, salah satu mekanisme untuk memecahkan gangguan tersebut terkait dengan pengkondisian klasikal.

Pada tahun 1989 merupakan tahun pertama untuk meneliti lebih lanjut tentang pengunaan terapi EMDR pada gangguan PTSD. Menurut Stamm (1999), stres traumatik merupakan suatu reaksi yang alamiah terhadap peristiwa yang mengandung kekerasan (seperti kekerasan kelompok, pemerkosaan, kecelakaan, dan bencana alam) atau kondisi dalam kehidupan yang mengerikan (seperti kemiskinan, deprivasi, dll). Kondisi tersebut disebut juga disebut dengan stres pasca traumatik (atau Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD). Hasil studi menunjukkan bahwa terapi EMDR lebih efisien waktu dalam mengobati PTSD. Kaplan dan Sadock (1997) mengatakan bahwa gangguan stress pasca traumatic dapat tampak pada setiap usia, namun paling menonjol pada dewasa muda, karena sifat situasi yang mencetuskannya. Untuk wanita, paling sering adalah penyerangan dan pemerkosaan. Jumlah perempuan yang mengalami trauma adalah dua kali dibandingkan dengan kaum pria. Gangguan kemungkinan terjadi pada mereka yang sendirian, bercerai, janda, mengalami gangguan ekonomi, atau menarik diri secara sosial. Indonesia sejak UNICEF menugaskan U.S.-HAP (Humanitarian Assisstance Program)  untuk melakukan pelatihan EMDR sekitar tahun 2000 yang dimaksudkan untuk membekali para profesional Indonesia dengan metode terapi untuk mengatasi trauma akibat kerusuhan atau pertikaian bersenjata yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia di masa itu. Pasca tsunami di Aceh Himpunan Psikologi Indonesia wilayah Jakarta Raya (Himpsi Jaya) bekat bantuan BMZ Germany dan Trauma Aid Germany melakukan Program Terapi Trauma untuk Penyintas Tsunami di Aceh sejak 2006. Melalui program tersebut dihasilkan 14 terapis yang  sampai tahun 2009 berhasil memberikan layanan terapi EMDR kepada sekitar 2700 penyintas tsunami di Aceh. Saat ini EMDR digunakan sebagai terapi penyembuhan anak-anak korban kekerasan (liputan6.com) . Polri mencatat ada 697 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di separuh tahun 2014. Jumlah ini berasal dari seluruh wilayah polda di Indonesia (indonesia.ucanews.com).

Trauma pada anak bisa disembuhkan meskipun agak sulit. Terapi ini bisa lakukan pada anak usia 4-5 tahun ke atas dengan berbagai macam bentuk trauma yang di alami tergantung kekerasan/pelecehan yang pernah dialaminya. Namun disarankan terapi ini juga melibatkan orang tua, karena seringkali anak merasa marah pada orang tua. Jika sudah seperti ini orang tua akan bingung dan ingatan buruk bisa mengancam si anak. Penelitian membuktikan bahwa EMDR itu aman, cepat dan efektif.  EMDR tidak menggunakan obat atau hipnosis. Ini merupakan terapi sederhana yang tidak menyakiti yang melibatkan peran serta terapis dan pasien agar penyembuhan berlangsung efektif. (Red.Ms)

Penulis: Fauzanin Nuryakin

>>Langgan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: