Move on Dari Zona Nyaman, Kenapa Tidak?

Move On kenapa Tidak

“Nobody can do everything, but everybody can do something….. Anonymous”

Kalimat tersebut saya dapatkan melalui sebuah tweet pada akun twitter pribadi saya pada suatu pagi, sangat sederhana namun memberikan kesan yang teramat dalam, mungkin karena saya seorang pembelajar psikologi. Seharian saya mencoba mencermati kalimat tersebut dan saya share pada orang-orang sekitar saya, dan tahukah anda betapa sisi-sisi psikologis dari kalimat tersebut mempengaruhi saya sampai saat tulisan ini tersusun.

Sekarang marilah kita sedikit menelaah makna dari kalimat tersebut, sebuah telaah bebas-popular karena kalimat diatas bukanlah kalam ilahi yang memerlukan seperangkat persyaratan tertentu untuk boleh memaknai. Kalimat tersebut adalah kalimat biasa yang akan kita telaah secara “biasa” pula.

Syahdan, ada seorang tokoh psikologi yang bernama Victor Frankl, yang melalui pengalaman pribadinya mengembangkan logoterapi, sebuah konsep terapi yang terkenal dalam dunia psikologi, seorang tokoh dengan kepakaran dibidang “meaning”. Melalui bukunya “Man’s Search for Meaning” (1959) Frankl mengutarakan ada tiga aspek dalam meaning, ketiganya adalah : meaning in life, the will to meaning dan the freedom to will (1959). Meaning in life, hidup seorang individu sangat dipengaruhi keadaan sekitarnya, sehingga merupakan tantangan bagi individu tersebut untuk dapat memberikan makna pada keadaan di sekitarnya (Frankl, 1959). The will to meaning, setiap individu akan berusaha untuk memaknai hidup (keadaan yang dialaminya, pen.) jika tidak ingin terjebak dalam kebosanan hidup dan apatisme (Frankl, 1985) dan yang ketiga adalah the freedom to will, yang merupakan kapasitas individu untuk memilih respon terhadap kejadian yang menimpanya dengan memberikan pemaknaan secara bebas sehingga pemaknaan tersebut unik, khas individu tersebut (van Deurzen-Smith, 1997).

Jadi tulisan ini adalah usaha penulis untuk memenuhi kaidah Frankl dalam proses pemberian makna terhadap kalimat ”nobody can do everything but everybody can do something”.

Dalam bingkai humanistik, setiap individu diyakini memiliki potensi unggulan yang akan menjadi trademark pribadinya. Namun dalam dunia kerja dengan segala bentuk kedinamisannya seringkali menempatkan individu-individu dalam kotak-kotak kategori. Mulai dari kategori “yang bisa bekerja super” sampai dengan kategori “asal bekerja”. Dalam kacamata psikologi organisasi, pengembangan sebuah organisasi terpulang pada sumber daya manusianya, terlepas dari mutu sumber daya manusia sistim pengelolaan sumber daya tersebut memegang peranan penting, para ahli menyebutnya sebagai manejemen.

Secara pribadi, individu seringkali menempatkan dirinya pada posisi “nyaman”, artinya seorang individu enggan beranjak mencari atau lebih tepatnya mendorong dirinya menuju potensi optimal yang seharusnya setiap manusia bisa melakukan, karena membutuhkan efforts lebih sehingga keluar dari zona nyamannya. Seringkali juga yang menjebak keadaan individu seperti ini adalah perlakuan sekitar yang mendudukannya pada kategori tertentu.

Dalam kalimat “nobody can do everything, but everybody can do something” yang mempunyai terjemahan bebas: tiada seorangpun yang dapat melakukan segala hal tetapi setiap orang bisa melakukan sesuatu. Merujuk kalimat tersebut diyakini bahwa setiap orang dapat mengambil peranan dalam memajukan lembaga/institusi/perusahaan dimana ia berada.

Hmmm….sudah saatnya bagi kita semua untuk beralih dari zona nyaman personal demi kemajuan bersama, bagaimanapun juga memang harus kita sepakati idiom berikut : “better lighting a candle then cursing the dark”. Selamat bermetamorfosis teman!

Penulis: Yusuf Ratu Agung, MA

>>Langgan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan