Bahaya Laten Televisi Bagi Anak; Orang Tua Harus Selektif

Elok Halimatus Sakdiyah (Pakar Psikologi Perkembangan)

Suatu ketika disaat saya mengisi seminar di acara orang tua binaan di salah satu instansi swasta, seorang ibu bertanya apa dampak buruk televisi dan bagaimana menghindarinya. Pertanyaan itu pula yang sering terlontar setiap kali saya mengisi acara dimanapun, di lingkungan masyarakat tempat saya tinggal, bahkan dalam perkuliahan di ruang kelas Psikologi Perkembangan yang saya ampu, yang tak luput dari munculnya pertanyaan serupa. Artinya, ada sebuah kerisauan kolektif di hati kita akan dampak tayangan televisi yang semakin lama semakin tak terjangkau disain prevensi bahkan rehabilitasi apapun jika kita tidak memiliki kepedulian terhadap perkembangan anak-anak kita.

Ada orang tua yang menanyakan bagaimana menghindari dampak buruk televisi, ada pula yang mengeluhkan menurunnya prestasi anak-anak mereka setelah televisi hadir di rumah. Namun, ketika kepada mereka ditunjukan cara yang paling sederhana mengatasinya, ternyata persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Ketika disarankan untuk mematikan televisi di rumah dan hati mereka, sepertinya para orang tualah yang paling merasa tidak siap kalau tidak memelototkan matanya kelayar televisi. Maunya para orang tua, mata mereka tetap terpaku di layar televisi, sementara anak-anak dapat terhindar dari dampak negatif nya. Inginnya, anak-anak keranjingan membaca dirumah, sementara orang tua mencontohkan keranjingan nonton televisi seteah seharian bekerja.

Terdapat logika yang bagus dari para orang tua tersebut. Anak-anak belum waktunya banyak melihat televisi karena belum mampu menyerap dengan cerdas. Yang harus dikerjakan anak adalah belajar. Sedangkan orang tua, mereka telah kenyang pengalaman, cukup memiliki kesigapan menyaring mana yang baik dan buruk, dan membutuhkan hiburan setelah bekerja.Namun, bagaimana mungkin anak-anak dapat melihat televisi seperlunya saja, jika orang tua sulit mengalihkan pandangan matanya dari layar kaca itu? Bagaimana mungkin anak tidak protes keras ketika orang tua mematikan televisi di rumah, ketika matinya televisi tidak disertai dengan sikap mematikan televisi di hati para orang tua?

Rasanya sulit dibayangkan anak-anak tidak menununjukkan kegilaan yang besar terhadap televisi, jika televisi dimatikan dirumah, namun disetiap perbincangan , kita menunjukkan antusiasme yang sangat besar terhadap televisi, acara-acara televisi, dan bintang-bintang televisi. Jadi, mematikan televisi harus disertai dengan kesungguhan untuk mematikan televisi di hati kita!!! Apakah tidak mungkin menghidupkan televisi untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga jika memang ada tayangan-tayangan yang bergizi untuk jiwa? Tentu sangat mungkin. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah sikap mental untuk melihat seperlunya saja, tidak terhanyut didalamnya. Itu pula syarat agar pendampingan yang dilakukan orangtua terhadap anak saat menonton televisi dapat berjalan relatif efektif. Moh. Fauzil Adzim menuliskan dalam salah satu bukunya bahwa perilaku kekerasan adalah dampak paling ringan dari televisi. Inilah dampak paling ringan, namun yang paling dirisaukan oleh para orangtua (meski banyak dari mereka tidak serius merisaukannya). Pengaruh tayangan kekerasan sangat mudah dilihat dampaknya, dan karenanya InsayAllah lebih mudah menanganinya.

Penulis: Dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Si

>> Langgan Artikel

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan