Menyikapi Mordernitas Terhadap Budaya Perspektif Al Qur’an & Psikologi

 Liputan Terkini

Studium Generale PsikologiFPsi UIN Maliki Malang – Seperti yang telah di prediksi bahwa Home Teater di Fakultas Humaniora dan Budaya akan sesak dipenuhi mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang, prediksi tersebut akhirnya terjadi juga. Gedung yang hanya berkapasitas 300 mahasiswa tersebut kelebihan kapasitas akibat antusias mahasiswa yang menghadiri Studium Generale pada senin (4/23) membeludak sampai pintu keluar. Acara yang dimulai pada jam 08.10 ini mengambil tema “Manusia Modern Perspektif Al Quran dan Psikologi” dengan pemateri KH. Abdul Qoyyum Mansyur (Gus Qoyyum), Ulama dari Jawa tengah, Pengasuh Pon-Pes Annur Lasem.

Sebelum Materi Studium Generale, Dekan Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang Dr. H. M Lutfi Mustofa, M. Ag menuturkan bahwa sediayanya acara ini tidak lepas dari unsur historis yang ada dalam tubuh UIN Maliki sendiri. Sebagai akademisi yang berbasis Islam, UIN Maliki Malang tentu menjunjung tinggi nilai Ke-Islaman dengan cara orientasi pengembangan yang berbasis integrasi antara ilmu modern dan ilmu ke-Islaman. Hal  inilah yang dipegang teguh oleh Universitas sebagai sebuah patokan dalam menjalankan roda pembelajaran di kampus ini. “Jika di barat seseorang menggunakan eksperimen untuk menemukan suatu kebenaran, maka disini wajib hukumnya untuk menggunakan Al-Quran sebagai kacamata dan kerangka berfikir kita dan menyelaraskannya dengan fenomena yang terjadi” ujarnya.

Gus Qoyyum membuka materi dengan sebuah cerita kenabian tentang prediksi Nabi bahwa akan ada di suatu zaman yang orang-orangnya mempunyai sebuah sifat keegoisan. Dalam materinya beliau menuturkan bahwa perbuatan berdosa dari setiap individu lah yang membuat hidup pelakunya menjadi tidak tenang dan gelisah, kehidupan yang nyaman dan tenteram hanya menjadi sebuah hal yang tidak bisa diraih bagi seseorang yang tidak dapat menjaga tingkah lakunya. Selain itu, seseorang yang dikategorikan sebagai individu yang benar-benar memaknai hidup, menurutnya adalah individu yang mempunyai sifat “Malu”. Seperti halnya kata “Alhaya’” dan “Alhayat” Keduanya sama-sama berasal dari satu fiil madi yaitu “haya” oleh karena itu seseorang yang mempunyai sifat malu dan etika dalam kehidupan sehari-harinya maka ia akan merasakan kehidupan yang tenang dan tenteram.

Ada tiga komponen yang perlu dibenahi untuk mewujudkan masyarakat yang agamis, tenteram dan aman, yaitu ulama, pemerintah dan masyarakat. Ulama seharusnya menjadi sumber psikologi utama bagi masyarakat, sehingga ulama mempunyai peran sebagai penuntun umat. Akan tetapi, tambah beliau, ulama sekarang mulai menurun dan keluar dalam disiplin ilmunya, mereka mulai menunjukkan sifat-sifat seperti kapitalisme dan hedonisme sehingga ulama yang dulunya mempunyai otoritas untuk memberikan pengarahan bagi pemerintah, tidak dapat lagi menjaga kepercayaan tersebut. Aspek yang kedua adalah penguasa atau pemerintah, menurutnya pemerintah adalah aspek kedua yang perlu dibenahi untuk mencapai sekumpulan masyarakat yang baik.

Individu yang kita percayai sebagai seorang aparat kepemerintahan haruslah seseorang yang mempunyai agama yang baik, karena seseorang yang mempunyai tingkat religiusitas yang baik maka tingkat psikologisnya juga baik. Ketiga adalah bangsa atau masyarakat sendiri, yaitu nilai moral dan budaya masyarakat. Masyarakat yang ingin berkehidupan yang baik maka harus mampu menjaga nilai-nilai moral dan budaya yang telah tertanam dalam masyarakat itu sendiri karena aspek moral ini berhubungan dengan etika masing-masing anggota masyarakat selain itu kita juga harus mampu menyaring budaya-budaya luar yang masuk pada budaya pribumi, salah satu contoh budaya negatif yang terjadi akibat dari sebuah modernitas adalah budaya topeng atau kemunafikan dalam sebuah masyarakat “Kita bisa besar dengan tiga hal yaitu, akhlaq, agama dan spritualitas dan juga sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai nilai lebih dalam intelektual dan pemikiran, harus memberikan contoh kepada masyarakat agar tidak berbudaya dengan topeng kemunafikan” Pungkasnya. (Red. Ms)

Reporter: Subhanallah Ramdhan

Baca Juga:

ubduh berita button

Studium Generale psikologi uin

Tanggapan Anda

Silahkan login di akun facebook anda jika ingin memberikan komentar/tanggapan

Author: